Fafavoice, catatan Fafa

Kisah Pemuda Desa dan Kiyai Kota Part 1

"Bu aku ingin pergi ke kota". kata pemuda
"Untuk apa nak?" tanya Ibunya dengan penuh keheranan.
"Aku akan menuntut ilmu Bu,kata Pak Ustadz yang tadi khotbah Jum'at hukumnya wajib".jawab pemuda begitu meyakinkan.
"Trus kamu mau makan apa di kota nanti?" tanya Ibunya.
"Aku akan menjual sawah kita untuk makan sehari-hari. Aku janji aku akan pulang kalau aku sudah bisa mengaji". jawab si Pemuda dengan penuh keyakinan.

   Akhirnya sang Ibu merelakan anaknya pergi ke kota dengan berbekal hasil penjualan sawah. Berangkatlah si Pemuda ke Kota dalam misi mencari Ilmu. Setelah sampai di kota si Pemuda bertanya kepada warga setempat, dia mencari Kiyai yang terkenal alim dan bisa ngaji.. tanpa berfikir panjang Si Pemuda langsung menuju ke Rumah gedong yang ditunjuk oleh warga tadi. Di rumah itu tinggallah Sang Kiyai sendiri bersama pembantu-pembantunya, rupanya Sang Kiyai tidak mempunyai santri satupun. Beliau adalah Kiyai TV yang terkenal memberikan ceramah di khalayak umum, namun ia lebih suka ceramah karena cepat menghasilkan uang banyak dari pada hanya sekedar mengaji.
   Si Pemuda mengenalkan diri pada Kiyai dan menyampaikan maksud untuk menimba Ilmu pada Sang Kiyai.
   "Memang kamu bawa uang berapa? Lha belajar khan butuh biaya?" tanya Sang Kiyai.
   "Ehm.. Niki Kyai hasil dari menjual sawah samping rumah saya". sambil menunjukkan sejumlah uang yang tidak sedikit kepada kiyai.
   "Oh.. kalau segitu ya saya pikir cukup, tapi ada syaratnya jika kamu ingin belajar disini.Kamu sanggup apa tidak?". tanya Sang Kiyai.
   "Iya syarat apa saja saya sanggup, asalkan saya bisa mengaji".jawab Si Pemuda.
   "Pasti, tenang saja nanti kau pasti bisa mengaji. Syaratnya pertama uangnya saya pegangsemua agar aman ditangan saya, kedua kamu harus menggarap kebun yang ada di belakang rumah sampai membuahkan hasil. kamu pinter berkebun tho??. tungkas Sang Kiyai
   "Iya saya sanggup". jawab Si Pemuda dengan yakin.
  waktu terus berjalan hari berganti hari, dan bulan berganti bulan Si Pemuda mengerjakaan tugasnya dengan penuh keikhlasan, walaupun Sang Kiyai belum pernah mengajarkan ilmu sedikitpun kepada Si Pemuda. Ketika waktu sudah berjalan setahun dan kebun sudah menghasilkan banyak buah dan panen. Si Pemuda pun menghadap Sang Kiyai dan menagih janji yang dulu pernah diucapkan Sang Kiyai.  
   "Kiyai, maaf menganggu sebelumnya, sekarang sudah lewat setahun, Apakah sekarang sudah bisa belajar mengaji." tanya Si Pemuda dengan bahasa sesopan mungkin.
  "Hmm.. iya. tapi sekarang kan baru setahun? Coba kamu garap lagi sawahnya setahun lagi, supaya lebih berkah. jawab Sang Kiyai
  Dengan sebersit kecewa karena belum mendapatkan ilmu. Si Pemuda pun tetap mengerjakan tugas dari Sang Kiyai Kota dengan penuh keikhlasan dan jiwa yang tulus. Walau sepeserpun ia tidak pernah dibayar, namun ia menganggap ini semua adalah bentuk pengabdiannya kepada gurunya. Panas matahari sudah berkawan dengan nya, peluh dan keringat tak pernah dihiraukannya, belum lagi rasa leti yang tak berkesudaan yang selalu mampir di tubuhnya. setiap hari ia tidak pernah mengeluh sedikitpun.
✓ OldestNewer ›

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^