Fafavoice, catatan Fafa

Kiyai Kota dan Pemuda Desa Part2

Akhirnya di tahun ke-2  Si Pemuda tetap saja melakukan tugasnya. Tanpa kenal lelah menggarap tanah untuk berkebun dengan hati yang benar-benar ikhlas karena Allah semata.  Walau Sang Kiyai belum pernah mengajarkan satu ilmupun kepada  Si Pemuda. Keringat sudah berkawan sejaknya dengan lama. Membasahi kaus yang menempel lekat di tubhnya. Menunjukkan betapa ia bekerja tulus tidak setengah-setengah. Tekadnya  bulat untuk mendapat ilmu agama.
Setelah tahun ke-2 berakhir dengan pencapaian 3x panen dengan usahanya sendiri. Menghadaplah Si Pemuda kepada Sang Kiyai berharap agar Sang Kiyai memenuhi janjinya untuk mengajarkannya ilmu agama. Namun betapa kecewanya perasaannya setelah ia mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan dari Sang Kiyai.
“ Oh sudah 2 tahun ya, mengerjakan tanahnya. Ya baguslah kalau begitu” tutur Kiyai.
Nggeh, tanahnya sudah banyak tanamannya dan hasil panennya pun sangat memuaskan” tutur pemuda.
“Iya bagus. Berarti kamu sungguh-sungguh mengerjakannya” tutur pemuda.
“Ehm, iya, trus ngajinya bisa dimulai mboten kiyai ?” ujar pemuda dengan kalimat yang sehalus mungkin.
“Oh ngaji?” ya saya ingat. Tenang, santai dulu aja, ini kan baru tahun ke-2. Dilanjutkan dulu saja perkerjaannya satu tahun lagi . tidak masalah kan?” jawab Sang Kiyai dengan begitu santainya.
Si Pemuda hanya terdiam sesaat. Kemudian ia hanya menganguk sebagai tanda setuju. Namun, jauh di dalam hatinya, sebenarnya ia merasa begitu kecewa. Ia pamit pada Sang Kiayi kembali ke kamarnya. Ia merebahkan badannya di atas kasur dan pikirannya menerawang jauh ia memikirkan cita-citanya untuk menuntuk ilmu dan janjinya pada ibunya . dia tidak akan mungkin pulang jika ia belum bisa menngaji. Pasti ibunya sangat kecewa padanya. Keesokan harinya ia kembali ke “perkerjaan” semula. Semua itu tetap ia lakukan dengan ikhlas, begitu ikhlasnya. Setiap cangkulan, setiap keringat yang menetes, dan hembusan nafasnya menjadi saksi usaha dan tekad bulatnya yang kuat.
Dan tepat pada saat itu pula di Negri parawali sedang dirundung pilu karena salah satu dari wali abdal ke empat arah mata angin telah dipanggil Sang Kuasa. Maka para wali pun berkumpul untuk mengadakan rapat dengan Nabi Khidir sebagai penasehat utama . maka Nabi Khidirpun memerintahkan untuk mencari pengganti wali yang telah meninggal tadi.
“Carilah seorang yang paling ikhlas di dunia ini sebagai pengganti dari wali yang telah meninggal tadi” berkata Nabi Khidir.
Maka cahaya dari pemuda yang ikhlas tadi langsung memancar menembus langit ketujuh. Maka para walipun langsung mengangkat Si Pemuda menjadi wali Abdal. Ketika Si Pemuda mencangkul di kebun seperti biasanya. Tiba-tiba Pemuda tersebut terkaget karena cangkulnya berdzikir menyebut asma Allah .secara reflek ia pun mlepaskan cangkulnya dari genggamannya. Tanah, tumbuhan, dan semua yang ada di sekitarnya berdzikir menyebut nama Allah. Dan ketika ia memandang ke arah langit. Maka pandangannya menembus langit ketujuh hingga Lauhul Mahfudz. Ia terdiam sesaat, perasaannya bercampur antara takjub dan takut atas apa yang ia alami dalam hati ia bertanya: “Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku ?”. Subhanallah, Ia terus dan terus memuji nama Tuhannya. Kini si Pemuda telah resmi diangkat menjadi seorang wali oleh Allah maka tidak aa hijab baginya segala yang ghaib Nampak jelas dan nyata baginya.
Si Pemuda bergegas berlari dan melaporkan apa yang ia alami kepada gurunya. Namun alangkah terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ternyata rupa gurunya bukanlah seperti manusia tapi lebih mirip seperti seekor babi. Ia begitu shok. Namun ia tak berni berkata apa-apa.
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba berlari memanggil saya? Apa ada masalah yang begitu penting? Tanya Sang Kiyai.
”Hmm..tidak kiyai, tidak ada, maaf Cuma masalah kecil tidak penting” tutur Si Pemuda sambil menunduk tidak tega melihat wajah gurunya.
“Kalau tidak ada masalah yang penting, jangan triak-teriak seperti tiu,waktu saya sangat berharga” jawab Sang Kiyai.
“Ehm gini guru saya piker, saya sudah banyak belajar disini, 3 tahun sudah cukup bagi saya, saya akan kembali ke desa” ujar Si Pemuda
“Baiklah jika memang itu yang kamu inginkan ya silakan, pulanglah ke desamu.
Rupanya wajah Sang Kiyai seperti babi karena Sang Kiyai telah banyak mengerjakan hal-hal maksiat. Walaupun, ia Alim dan menguasai ilmu agama, namun gemerlap kehidupan dunia telah mengubah jalan pikirnya. Ia tidak sadar bahwa Si Pemuda telah menjadi wali.
Kini akhirnya Si Pemuda kembali ke desa untuk mengajarkan ilmu agama karena ia sudah mendapatkan ilmu Ladunni. Namun, ia selalu menghormati Kiyai kota tai, karena berkat Kiai kota itulah secara tidak langsung telah membantunya. Sehingga ia diangkat menjadi wali dan mendapat karomah luar biasa.
Wassalam

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^