Fafavoice, catatan Fafa

Adilkah Hirearki Keluarga dalam Islam




Pagi ini ada ibu-ibu bertanya: “Jikalau aku marah pada Suamiku dosaku sangat besar, bagaimana dengan sebaliknya? Jika Suami marah padaku, meski aku juga terlukakenapa kami (kaum istri) tidak boleh membantah? Kenapa hukum Allah tidak adil?” ungkapnya. Aku termengun mencari jawaban yang tepat.

Dalam keluarga menurut hukum Islam, bagi isrtri hirearki tertinggi adalah suami, maka istri harus menaati segala perintah suami dalam pengambilan keputusan. Begitu juga bagi seorang anak, ia harus menaati semua kehendak dan perintah ibunya melebihi ayahnya. Kecuali jika perintah tersebut bertentangan dengan kehendak Allah, seperti berbuat kejahatan dan maksiat, maka lain lagi ceritanya. Hirearki atau tingkatan yang mutlak dalam hukum Islam ini sudah dituliskan dalam Alquran dan hadist.

“Dan para wanita mmempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada istrinya.” (Al-Baqarah: 228)

Hakim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata:
“Saya bertanya pada Rasululllah SAW. ‘Siapakah yang memiliki hak terbesar pada wanita?’ Jawabnya: ‘Suaminya’. Lalu saya bertanya, “Siapakah yang paling berhak pada orang laki-laki’. Jawabnya: ‘Ibunya’.

Ketetapan yang sudah dituliskan lebih dari 1,4 abad yang lalu masih dianut dengan hikmat oleh Islam Tradisional. Terlebih di daerah Madura, masih bisa ditemui bagaimana seorang kepala keluarga diistimewakan dengan penjamuan makanan terlebih dahulu dari pada anggota keluarga lainnya dan ucapan yang harus benar-benar dijaga. Tentu tidak banyak model keluarga yang seperti ini, hanya ada beberapa sepertihalnya yang dialami salah satu temanku.

Bagaimana bila Islam benar-benar meyetarakan dan tidak ada pengistimewaan dalam posisi keluarga? Bisa kita bayangkan bersama bagaimana nanti anak-anak kita mendatang dengan canggihnya teknologi dan edukasi akan terus meminta hak-haknya tanpa menghormati kita. Atau bagaimana seorang istri berani dengan tegas melawan Suami, tentu akan terjadi perceraian dan ketidakharmonisan keluarga. Toh sekarang jumlah wanita jauh di atas laki-laki, yaa tinggal cari lagi.

Fenomena akibat ketimpangan sosial dan tidak ada kewajiban dan hak yang setara menggulirkan banyak problema rumah tangga. Sepertihalnya gagalnya pernikahan yang kini mencuat di masyarakat. Adegan itu tidak hanya bisa dilakukan para selebriti,  tapi tetangga, teman atau sadara kita yang bernasib melang karena adanya prahara rumah tangga. Tidak hanya itu, banyak juga cerita anak-anak yang tidak menurut dengan kedua orang tuanya alias durhakan dan cerita lainnya.

Dijaman modern dimana emansipasi atau kesetaraan selalu dijunjung tinggi. Masih segar berita dimana warga Tunisia berdemo untuk mendapatkan hak waris yang sama dengan laki-laki. Tentu jelas berbeda kondisi keluarga kekinian dan tempoe dulu, tidak semua istri berkata, “Siap, laksanakan atau sendikoh dawuh.” Istri-istri menjadi tulang punggung keluarga, banting tulang di negeri orang, suami-suami diam di rumah untuk memanajemen rumah, seperti halnya dalam sinetron “Dunia Terbalik”. Orang semakin kritis dalam berpendapat dan menanggapi masalah.  Tentu hirearki diperlukan dalam menjaga kestabilitasan rumah tangga. Tapi bila anak atau isrtri tersakiti dan menjadi korban kekerasan, langsung lapor yang berwajib agar cepat ditindak. Toh agama kita, menjungjung tinggi kasih sayang. Dan sesungguhnya pahala yang besar (pahala jihad) menanti istri bila mampu berbakti kepada suaminya.

“Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu temui bahwa taak kepada suami dan mengakui hak-haknya adalah sama pahalanya dengan perang di jalan Allah.” (Hadis Riwayat Ibnu Abbas)


Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^