Fafavoice, catatan Fafa

Lelaki Pawang Hujan



Saat itulah lelaki itu tiba-tiba hadir menjadi penangkal hujan. Tanpa sepatah suara, dengan sigap payung yang ia genggam dilabuhkan ke pundakku. Aku tertegun tanpa bisa berucap, yang kulakukan hanya memandang bahunya yang kekar dan tegap menghilang ditelan hujan.

Selama ini aku menganggap sosok yang ada di sampingku masih sama seperti 20 tahun yang lalu saat takdir mempertemukan kami di bawah payung hujan. Derai hujan menari-nari menyelimuti gundah di hatiku, tepat setelah cinta pertamaku pupus. Saat itulah lelaki itu tiba-tiba hadir menjadi penangkal hujan. Tanpa sepatah suara, dengan sigap payung yang ia genggam dilabuhkan ke pundakku. Aku tertegun tanpa bisa berucap, yang kulakukan hanya memandang bahunya yang kekar dan tegap menghilang ditelan hujan. Aku tahu disaat itulah awal pertemuan dengan lelaki yang mampu menangkal semua lara kehidupan, tidak hanya hujan hari itu.
Kami membangun hidup sederhana, beratap kepercayaan, di bawah naungan tanggungjawab. Meski bukan termasuk golongan yang berkepunyaan, namun kebahagiaan kamu begitu sempurna, terlebih setelah lahirnya anak-anak kami yang menambah garis-garis pelangi di surga kecil kami.
            Namun, setelah 20 tahun hidup bersama, tepat setelah pesta rakyat sekaligus pengokohannya sebagai kepala desa. Perlahan namun pasti, aku menemukan sosok asing yang bersemayam bersama lelaki yang selama ini kukenal. Tak lagi bersahaja seperti dulu, tutur katanya tak lagi selembut dulu, sikap sedingin danau es, dan tatapan matanya hanya menyisakan kelu. Entah siapa pula orang di sampingku yang selalu mengajak untuk menghadiri pertemuan-pertemuan penting dengan orang terkenal semacam artis TV, berbagai acara dengan pejabat, pebisnis, hingga orang-orang pinggiran untuk menaikkan gengsi. Terkadang terceletuk kata-kata pujian yang kerap tak kupahami. Sebab kutahu semua itu semu, kata-kata manis yang seperti tong kosong, nyaring tanpa isi.
“Pak Kades, Istrimu itu luar biasa ya?”
Loh iyalah, bukan hanya cantik, tapi aku dengar-dengar juga pandai memasak. Pasti Pak Kades merasa menjadi orang paling beruntung sedunia”. Salah seorang pengusaha ikut menimpali.
Aku hanya menyunggingkan sedikit senyum tumpul di ujung bibirku, tak lebih karena suasana dan menghormati tamu. Tak ada bahan ringan yang bisa mencairkan suasana penuh persaingan dan politik di meja makan, kecuali membicarakan kepemilikan atau barang baik yang patut dipuji. Salah satu barang itu adalah aku, yang kerap dinilai dan dilebih-lebihkan oleh orang lain untuk sekadar mencari simpati dan perhatian dari percakapan di meja makan.
“Tentu saja, suami mana yang merasa tidak beruntung. Bila mendapatkan bidadari turun dipangkuannya. Sudah Pintar, cantik pula.” Lelaki disampingku menambahi
Kini aku tak terlalu terkejut, kalimat-kalimat palsu yang hanya terucap di luar pelataran rumah sudah biasa terdengung. “Ahh, seperti hari ini”
Tiga tahun menjadi kades, dan Dia, lelaki yang tepat duduk di sampingku telah benar-benar sangsi kupahami. Pernah suatu malam ingin kululuhkan segala unek yang mengganjal di benak.
“Mas, kapan ya terakhir kali engkau bermain dengan anak-anak, atau setidaknya menemani mereka mengerjakan PR?”
Ia hanya terdiam, jarinya bergerak tanpa henti men-scroll tab. Pikirannya tak bergeser sedikitpun  dari layar  penuh diagram. Aku menghela nafas panjang, kali ini aku tidak mau kalah dengan “benda” yang tidak bernyawa.
“Mas, kemaren anak kita yang pertama mendapatkan peringkat satu, wali kelasnya sangat bangga padanya. Dia sangat mengharapkanmu datang, tapi kau tak juga muncul, hingga sekarang mungkin ia masih sedikit kecewa”
“Kau sudah tau kan aku sibuk.” Jawabnya singkat tanpa melepaskan pandangan dari layar tab. Ia masih tak mau mengalah, keras kepala seperti biasanya.
“Sebegitu pentingkah tugas-tugasmu sebagai kades dari pada kami? Keluarga yang selalu ada di dekatmu, Mas?” Suaraku sedikit merengek, seperti bayi yang baru saja kehilangan balon dan minta dibelikan lagi.
“Kenapa kau jadi menjengkelkan! Kau tidak lihat aku sedang apa? Jangan egois, tugasku ini jauh lebih penting, karena menyangkut banyak orang.” Jawabnya dengan nada tinggi
“Mas, aku tidak meminta lebih selain hanya sedikit perhatianmu seperti dulu.”
“Sudah, jangan memulai keributan yang sia-sia, aku lelah. Biarkan aku istirahat. Besok aku harus menghadiri banyak pertemuan dengan orang-orang penting.” Jawabnya sembari meletakkan tab di atas meja.
Ia pun perlahan menarik selimut, menutup layar laptop dan mematikan lampu. Aku sudah tahu bahwa akhir dari percakapan akan seperti ini. Rasanya hambar, sehambar teh tawar. Siapa mengira pengabdian tulus dan komitmen untuk membangun bangsa terasa sepahit jamu bagiku. Apakah hanya aku satu-satunya orang yang merasa kehilangan disini? Hatiku sesak.
Sebentar lagi pemilihan wali kota, dan Ia sudah jauh tenggelam ke lumpur pekat  tanpa dasar yang mereka sebut politik. Berbagai kampanye dan cara telah ia lakukan untuk memenuhi obsesi tentang apa yang ia sebut visi misi. Potret wajahnya bertaburan di jalan-jalan, angkot yang biasa kunaiki untuk ke pasar, hingga layar televisi dimana aku biasa menonton. Kamarku bukan lagi tempatnya berada. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di kantor bersama kroni-kroninya. Popularitas semakin meroket dengan berbagai kampanye aktif, dialog interaktif, pemberitaan tanpa pernah surut. Rasanya muak.
Dari pada aku ikut terjerat dengan dunianya. Aku memilih untuk tidur bersama anak-anakku. Toh, ia tak pernah peduli. Mungkin bila aku minggat bersama anak-anak, dia juga tak akan merasa bersedih apalagi kehilangan. Apa artinya aku baginya? Mungkin potongan kecil yang menghiasi dunia penuh ambisi miliknya.
Akhirnya setelah larut dengan berbagai sorotan, lelakiku resmi menjadi walikota, dengan selisih yang amat tipis dengan pesaingnya. Hal pertama kali yang terlintas di pikiranku adalah ekspresi apa yang harus aku lakukan haruskah aku bahagia atau justru bersedih? Segalanya terasa serba sulit.
Setelah menjadi wali kota, rumah kami pun pindah dari kampung kumuh tempatku dibesarkan ke perumahan elit. Rumah tiga lantai dengan perabotan lengkap nan eksklusif disitulah kami tinggal. Anak-anak maupun aku kurang sependapat. Tapi keputusannya tak terbantahkan. Alih-alih menggunakan uang suami, diam-diam aku menabung dari hasil kerjaku mengajar di sekolah. Uang itulah yang kugunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari anak-anaku. Bukannya aku menuduh yang bukan-bukan,  Aku hanya khawatir dengan masa depan anak-anak kelak. Jadi apa mereka bila perutnya terisi sesuatu tercium busuk.
Uang dari suami, kuputuskan untuk ditabungkan di bank entah sudah berapa kali teller bank terheran-heran dengan bergepok-gepok uang yang aku berikan tanpa pernah kuambil sedikitpun.
“Tabungannya untuk masa depan putra-putrinya ya Bu, agar bisa sekolah ke luar negeri” tanyanya pada suatu kali
“Iya mbak”, Jawabku tak ingin ambil pusing.
Makan malam kali ini pun seperti halnya hari-hari lainnya. Meja makan yang besar dengan berbagai hidangan terasa begitu lengang tanpa percakapan. Ia sibuk mengecek WA, melihat berbagai hot topik yang berkaitan dengan perkerjaannya. Anak-anakku pun sudah paham, tidak ada yang perlu dibicarakan di meja makan. Karena suara mereka tak akan pernah meraihya. Tiba-tiba terdengar suara telepon dari seberang ruangan. Aku bergegas mengangkat.
“Ya, disini dengan keluarga Pak Suherman, ada yang bisa saya bantu? Suara berat di ujung telepon menjawab salamku.
“Selamat malam Bu, kami dari kepolisian. Bisa tolong berikan telepon ini kepada Bapak Suherman? Kami ada sedikit keperluan. Aku tersentak, lalu aku berikan telepon itu kepadanya.
Dengan mimik muka penuh emosi dan ketakutan. Ia terus memaki-maki dan berteriak pada orang yang ada di seberang telepon, seketika itu pula aku tahu apa yang telah terjadi. Aku bergegas menyuruh anak-anak untuk kembali ke kamar.
Keesokan harinya, kepolisian datang dan menggeledah rumah kami. seluruh aset termasuk rumah, mobil, dan perabot disita oleh kepolisian. Dengan seragam belang aku mengikutinya hingga ke Lapas.
Air matanya tumpah ruah. Kini lelakiku mengoyak payung yang ia berikan waktu itu. Payung yang melindungiku dari segala lara. Membiarkanku tertampar hujan tanpa henti.
“Tak ada yang perlu disesalkan, tak ada yang perlu disalahkan.” Kugenggam erat tangannya. Menguatkannya batinnya
Berbagai media sibuk mengerubungi lelakiku yang kini tertunduk lesu, tatapannya nyaris kosong tak bercahaya. Media tak lagi mengelu-elukan pesona dan pribadinya setinggi langit, justru cacian yang menikam. Begitu kerasnya hingga tak berdaya.
Kini giliranku untuk menampung rintik hujan di relung hatimu. Biarkan aku menjadi pawang hujan bagimu seperti halnya kau menjadi pawang hujan bagiku.




Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^