Fafavoice, catatan Fafa

MANUSIA DENGAN SOROT MATA TAK BERJIWA

Brillio.net


Bola mata Pak Tua dengan tangan berlumuran oli itu terasa semakin hampa. Gelap, tak ada ruh-ruh malaikat di sana, tak ada kidung doa dan lantunan syair menentramkan jiwa. Semakin kau jelajahi hilirnya, bahkan sampai ke hulu hanya ada kegelapan yang semakin mencekam.

Rantai jeruji sepeda yang tiap hari kukayuh pada pagi yang tak terlalu terik tiba-tiba putus. Buru-buru aku menghentikan kayuhanku dan mulai menuntunnya perlahan. Jarak sekolahku masih 2 kilometer lagi, masih sempatkah? Batinku, Ah, mungkin tidak akan sampai tepat waktu. Lima menit berlalu, semakin aku mencoba berfikir positif dan menenangkan diri, semakin gelisah dan was-was perasaanku. Mungkin Pak Satpam akan memaafkan keterlambatanku. Toh, mereka tahu aku berasal dari desa, melihatku datang ke sekolah dengan rantai sepeda yang terputus, masa tega masih dihukum? Batinku.  

Perasaan-perasaan negatif yang selama ini kubendung kembali mengambang dipermukaan. Menampilkan lintasan ingatan-ingatan kelam sepanjang bersekolah di sana. Bagaimana para siswa saling berkelompok sesuai dengan kastanya, guru-guru yang sering melonggarkan aturan bagi mereka yang membayar lebih, menyumbang untuk pembangunan sekolah. Lebih dari itu, aku yang selalu juara kelas seolah bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Sungguh, bukan untuk sombong, tapi seolah usahaku ini bukanlah apa-apa, hatiku jadi semakin sesak. Sekejap aku membuyarkan pikiran negatif ini, jangan sampai perjalanan menuntut ilmu ini memberatkan langkahku untuk membanggakan orang tua.

Jalan yang kulintasi ini begitu lenggang, tak banyak pejalan kaki melewati jalan sempit dengan rangkain pohon asam yang saling sikut. Hanya ada dua-tiga warga desa yang bersepeda berpapasan denganku tapi sudah sibuk dengan beban bawaanya di boncengan belakang masing-masing. Desaku ini masih sama seperti saat nenekku masih kuat berladang. Sunyi, tidak ada yang berubah, bangunan maupun letak rumah tetap pada posisi yang sama. Pembangunan desa nyaris mati. Mungkin akan terus begitu, hingga nantinya aku tak kuat berladang sepertihalnya nenek.

Sepuluh menit menuntun sepeda hingga sampai di gardu desa, di sinilah perbatasan desaku dengan kota dimana aku bersekolah. Ada sebuah papan besi tertancap dengan warna coklat dan orange, mungkin sudah separuh abad umurnya, ejaan tempo dulu, nama desaku bertengger disana. Tepat di sampingnya ada sebuah gubuk reyot, berdinding anyaman separuh roboh. Hanya ada satu ruangan tanpa pintu yang bisa digunakan. Di depannya ada sebuah tangki sedang berwarna merah, khas tukang tambal ban yang sering aku lihat di pinggiran jalan raya kota. Di sebelahnya ada dudukan kayu panjang yang biasa dibuat warga desa duduk maupun tidur. Terlintas di pikiranku untuk mencoba meminta tolong tukang tambal ban agar membantu membetulkan rantai sepedaku. Jadi aku tidak akan telat sekolah.

“Pak, Pak..”. berulang kali aku memanggilnya.

Namun tak sesentipun ia bergerak. Aku memanggilnya lagi, “Pak, Pak..” Kali ini aku memberanikan diri untuk mendekat agar pak tua itu bangun. Tiba-tiba matanya terbuka, dengan alis sedikit tertekuk ke bawah.

“Kenapa Nak?” tanyanya singkat. Matanya menatap ke arahku, seolah hendak memeriksa, apakah ia mengenaliku atau tidak. Tapi aku tahu pasti dia tidak mengenaliku. Rumahku jauh di kedalaman hutan. Sangat kontras dengan perbatasan yang dekat dengan jalan, jangan harap ada jalan seperti ini di dekat rumahku. Ada jalan yang bisa dilewati manusia saja sudah syukur.

“Itu Pak, rantai sepeda saya putus, bisa minta tolong diperbaiki, Pak?” Jawabku sesopan dan sehalus mungkin. Jelas karena aku sangat mengharapkan bantuannya. Tentu saja aku sangat terbantu.

Bapak tua itu hanya terdiam, sedikit mendengus, seperti kesal karena ada seorang anak kecil yang mengganggu tidur nyenyaknya. Ia beranjak dari tempat duduknya. Meraba-raba kotak perkakas, terbuat dari bekas jerigen plastik yang diberi lubang segi empat, lusuh berwarna hitam, bekas tumpahan oli yang sudah lama tidak dibersihkan, aroma oli begitu kuat tercium dari punggung pak tua. Dengan langkah gontai, jauh dari sigap dan cekatan ia meraih obeng dan mulailah membongkar pasang sepeda. Aku memperhatikan gerak-geriknya lekat-lekat, tak berkedip, setiap perubahan gestrur, gerakan tangan, dan apapun yang ia lakukan di satu-satunya benda paling berharga dikeluargaku.

Pertama pak tua itu mulai membongkar tutup jeruji dengan obeng, dilanjutkan dengan mengotak-ngatik rantai yang putus. Lima belas menit berlalu, pak tua masih belum selesai dengan pekerjaan bongkar-pasangnya. Aku mulai cemas, dua puluh menit lagi bel sekolah akan berbunyi.

Setelah menahan dan terus bersabar, akhirnya aku memberanikan diri bertanya, “Pak, bagaimana? Sudah selesai belum..?” Bapak itu tidak menjawab, masih fokus melajutkan bongkar pasangnya.

Hm, maaf Pak, saya mau berangkat ke sekolah.” Aku terus melanjutkan kalimatku, berharap dia akan mengerti dan segera menuntaskan pekerjaannya. Pak tua hanya mengembil napas panjang, lalu memulai percakapan yang terkesan dipaksakan.

“Nak, masih lama ini, sepertinya sepedamu ditaruh sini aja, baru bisa kamu ambil besok.” Jelasnya pelan.

“Tapi Pak, kan cuma putus rantainya kenapa harus besok baru selesai diperbaiki?” Tanyaku dengan nada penasaran.

“Kamu ini tau apa, Nak? Saya ini sudah puluhan tahun menjadi tukang tambal ban. Tentu saya lebih paham dari pada anak kemaren sore sepeti kamu.” Nada suaranya mulai meninggi. Tapi ia melempar sorotan matanya jauh-jauh, seolah enggan menatapku.

Aku mulai ragu-ragu, perasaanku semakin cemas. Ada sesuatu yang mengganjal. Aku harus membawa sepeda ini bersamaku bagaimanapun caranya.

“Kalau begitu, ndak jadi Pak, biar saya bawa saja ke sekolah. Maaf ya, Pak.” Balasku sembari mencoba meraih sepedaku.

Loh, kok gak jadi, kamu jadi anak kok kurang ajar ya. Harusnya orang tuamu bisa mengajari sopan santun kepada anaknya!” tangkasnya

Aku segera menarik sepedaku dan membawanya berlari bersamaku. Tangan pak tua hampir saja mencekram pundakku. Namun, aku berhasil menghindar. Hanya bekas oli yang menempel di seragam putih, bekas dari jemari tangannya yang melekat.

Bapak tua berteriak-teriak, “Nak, kembali nak! Kamu harus membayar biaya bongkar-pasangnya!” Serunya dengan tangan mengepal. Sayup-sayup aku mendengar teriakan dan makian kata-kata yang semakin menghilang.

Aku tidak peduli dengan teriakannya, aku masih terus berlari, setelah berlari cukup jauh. Aku menoleh ke belakang, untungnya pak tua tadi tidak sampai mengejarku.

Kemudian bekas-bekas ingatan ketika menatap wajahnya kembali muncul berhamburan. Sorot matanya begitu kosong, hampa, gelap, tak ada ruh-ruh malaikat di sana, tak ada kidung doa dan lantunan syair menentramkan jiwa. Semakin kau jelajahi hilirnya hingga hulu pun yang ada hanya kegelapan yang semakin mencekam.

Itulah pertama kalinya aku bertemu dengan manusia dengan sorotan hampa. Beberapa tahun kemudia saat menginjak bangku sekolah dan pindah ke kota. Aku menemukan beberapa orang dengan sorotan mata yang sama. Gelap, hampa, tak ada ruang untuk cahaya yang mencairkan kebekuan. Seperi misalnya seorang penjaga parkir yang mematok tarif dua kali lipat, supir angkutan yang menaikkan tarif ketika yang membayar adalah orang asing, hingga lagi-lagi seorang tukang tambal ban, yang setiap kali selesai menambal ban, dipastikan keesokan harinya banmu harus diganti. Apakah kamu bagian dari itu semua? Ha-ha-ha, jangan membuatku tertawa.

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^