Fafavoice, catatan Fafa

Review Bab I Islamku Islam Anda Islam Kita, Agama Masyarakat Negara Demokrasi


Review Bab I
Judul Buku          : Islamku Islam Anda Islam Kita, Agama Masyarakat Negara Demokrasi
Karya                     : Abdurrahman Wahid
Sub Judul             : 18 Tulisan
Reviewer             : Lathifah Inten Mahardika

BAB I
Islam dalam Diskursus Ideologi, Kultural dan Gerakan
Tiga tulisan Gus Dur awal menentang dengan jelas berdirinya negara Islam atau negara khilafah. Bukan berarti maksud Gus Dur menyepelekan atau menafikan ajaran Islam itu sendiri, melainkan Gus Dur tidak menginnginkan adanya perpecahan di NKRI dengan kemajemukannya. Gus Dur menampilkan berbagai pertimbangan, alasan dan bukti-bukti empirik dalam buku ini.

  1.        Adakah Sistem Islami?

 “Masuklah kalian ke dalam Islam(kedamaian) secara penuh.” Kata silmi disini secara formal bisa diartikan sebagai Islam dalam artian sebuah sistem Islam (berdirinya negara Islam). Inilah kemudian muncul istilah “Islam kaffah” yang termasuk kesalahan populer karena keterbatasan pemahaman gramatikal arab. Kehadiran sistem Islam ini juga secara otomatis menyebabkan adanya pengkastaan, anggota non Islam dikategorikan lapisan kedua. Jika demikian dimana posisi muslim abangan yang tidak menjalankan syariat secara penuh.

Lalu mengapa Alquran menetapkan syarat non-organisatoris/ rukun Islam. Tentu seorang muslim yang sudah menjalankan kelima syarat tersebut sudah pantas disebut sebagai seorang muslim yang kaffah tanpa perlu menggunakan sistem sistemik Islam. Menurut Gus Dur arti yang tepat dari as-silmi ada perdamian yang maknanay lebih universal dan dapat diterima oleh semua kalangan. Karena itulah Gus Dur mendirikan partai PKB tanpa embel-embel Islam. Karena menurutnya tidak ada kewajiban dalam mendirikan Negara Islam, sebaliknya jika tetap dilakukan, maka akan bertentangan dengan Demokrasi dan undang-undang negara.
  1.  2. Islam: Pengertian Sebuah Penafsiran

“Memberikan Pengampunan dan Menurunkan Siksa Kepada Siapapun adalah Otoritas Alllah.” Dengan begitu Sejauh manakah otoritas negara memberikan hukuman kepada manusia, cukupkah hukuman itu menggantikan sisksanya di neraka? Bisa jadi manusia malah mendapatkan hukuman ganda(dubblebleren)  yang jelas bertentangan dengan hadis Nabi, “Jangan berlakukan hukum hadd ketika masalah tidak jelas” sehingga huku negara sangat terbatas. Diperlukan pemikiran mendalam sebelum mendirikan negara Islam.
Gagsan Federalisme bersifat separatis, karena tidak berkeinginan daerah bersifat independent atau mandiri. Pemusatan Pemerintahan hanyalah suara minoritas, mayoritas suara menginginkan penetapan anggaran berpusat di daerah. Pejelasan terperinci sangat diperlukan agar tidak terjadi miskomunikasi dan misunderstanding antara kedua belah pihak. Gagasan NKRI sebagai nasiobalistik dan gagasan federal sebagai sudut pandang negara Islam. Memilikian tujuan yang sama dengan cara yang berberda, akhirnya saling tuding dan tidak akur, mungkin inilah bencana bagi Indonesia?

3.       Islam: Pokok dan Rincian

Acuan dasar yang digunakan untuk mendirikan negara Islam adalah Firman Allah  (2/208) dan (3/3).  Dengan penafsiran parsial demikian, secara tidak langsung mereka telah menyalahi ayat (23/53) dan (21/107).  Imaginari golongan minoritas tersebut berpendapat kesempurnaan ajaran Islam hanya dapat tercapai dengan berdirinya negara Islam. Jika demikian kewajiban mendirikan negara Islam menjadi hukum absolute yang tabu untuk dilanggar.

Apakah benar demikian adanaya? Kedua perintah sistemik tersebut dapat dirasionalkan dengan perintah sistemik yang lain,  Al-Baqarah (2/256) dan (109/6). Kedua ayat itu menjelaskan tidak adanya paksaan dalam beragama, karena jelas mana yang lurus dan mana yang palsu. Alquran juga tidak menjamin inklusifitas lembaga tertentu, hanya akal lha yang mampu mencapai kebenaran.

Singkatnya lembaga(dalam artian golongan atau negara) tidak menjadi acuan dalam kesempurnaan Islam seseorang melainkan akal. Meski tidak ada negara Islam bukan artinya seorang muslim hidup indvidual, mereka tetap diharuskan hidup dikomunitas masing-masing untuk meremuskan hukum-hukum agama. Maka terjadi keseimbangan di antara semua pihak. Sesuai dengan ungkapan Umar bin Khattab, ....

   Islam dan Deskripsinya

Islam dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dunia pesantren oleh Djamil Suherman digambarkan sebagai orang berbudaya yang berbeda pada umumnya, dengan sistem nilai yang tak kalah dasyat dari cerita kungfu karya Chin Yung. Sebaliknya A.A. Nafis, sastrawan Minang menceritakan kegundahannya secara dilematis. Novel berjudul “Robohnya Surau Kami,”mengammbarkan krisis keagamaan yang mendalam di Sumatera Barat secara realitas. Perbedaan kehidupan beragama jelas tergambar antara cerita pesantren yang romantis dan kondisi Islam di Minang yang tragis.

Setiap orang melihat sesuatu dari sudup pandang berbeda yang kerap kali kita anggap tidak penting. Dirk Bogarde dalam film “The Singer, Not The Song” yang telah memeluk kristen, menjadi kristian yang sungguh-sungguh setelah Pendeta Mils mengorbankan nyawanya. Bagi Bogarde, seorang bandit yang muak ajaran agama, lebih karena pengorbanan diri seseorang bukan karena kebenaran agama lah di memeluk agama.

Agama dapat dikaji dari berbagai sudut pandang, di antaranya Pendekatan empirik dan pendekatan idealisme universal. Untuk itu jangan remehkan sudut pandang.

5.       Islam dan Formalisme Ajarannya
Adanya kesenjangan antara teori dan praktek entah besar ataupun kecil.dalam paham komunisme kata “rakyat” dimaksudkan untuk membela orang kecil, namun prakteknya yang dibela justru kaum “aparathic.” Maka perlunya kehati-hatian dalam merumuskan orientasi ke-Islaman agar tidak bernasib sama seperti komunisme.

Seluruh persoalan paham Ke-Islaman berorientasi pada kepentingan orang kecil, sperti contoh “maslahah ammah”, yaitu kesejahteraan umum. Sesuai dengan ungkapan, “Tasharruf al-iman ala ra’iyyah manuthun bi al maslahah,” dan “dar’ul mafasid mukaddamun ala jalbi mas’alah,”

Nilai inilah yang dipegang teguh oleh gerakan-gerakan Islam sehingga Piagam Jakarta (The jakarta Charter)tidak difungsikan dari UUD kita. Para pemimpin gerakan Islam setuju untuk mentiadakannya, agar bangsa kita yang heterogen dapat bersatu di bawah NKRI.

Jelaslah bahwa Islam bukan formalitas belaka, melainkan secara kultural budaya lokal berbaur dengan budaya Islam. Tari Seudati digambarkan oleh James Siegel dalam buku The Rope of God mengadung praktek-praktek kaum Sufi. Terciptanya lagu Lir ilir oleh Sunan Ampel dan tradisi budaya Tabot. Dinamika budaya menyebabkan pergeseran dari budaya agama menjadi budaya adat.

Al-Ahzab mengandung nilai universal untuk melestarikan lingkungan alam. Hal ini harusnya menjadi landasan gerakan-gerakan Islam untuk menghidupkan bangsa bukan bernegara. Jikalau Islam terwujud tnpa formalisasi maka ia akan menjadi inspirasi.  Bagi gerakan-gerakan Islam bernegara. Inti pandangan ini adalah agama berfungsi nyata dalam kehidupan bukan formalitas. 

6.       Islam: Pribadi dan Masyarakat

Islam meski dikatakan sebagai agama yang paling benar dimanapun itu masih tetap memerlukan pengembangan. Baik dari sisi individu maupun kemasyarakatan.
Alquran sebagai kitab multitafsir tidak membagi secara jelas mna perintah yang bersifat individu ataupun sosial. Semua tergantung bagaimana manusia menafsiri ayat-ayatny. Contoh ayat bersifat sosial : al Hujurat 49:13. Sedang ayat individual yaitu an-Nisa 4:3.

Akal memiliki peranan yg sangat besar dalam menentukan ayat kolektif/individual. Terkadang satu perintah agama juga mengandung kedua-duanya contoh Al-Baqarah 3:183.
Hadis yang sulit ditentukan; uthlub al ilma min al Mahdi ila al-lahdi. Pemahaman hadis tidak bisa diungkapkan sebatas harfiyah saja(literal). Kata "kewajiban" Disini tidak didapatkan kesepakatan yang sama, bersifat fakultatif atau universal. Sehingga dalil aqli dapat memperkuat dalil naqli untuk ayat yg bersifat universal/tidak jelas. Seperti "hubbu al-wathan min al-iman".
Kesimpulannya dari naqli memiliki peluang perbedaan pendapat yang sangat besar. Karena itulah perbedaan pendapat sangat dijunjung tinggi oleh Islam. Jangan berpecah karena berbeda, Al Imron (3:310)


7.       Islam: Sebuah Ajaran Kemasyarakatan

Islam menghargai profesi yang dimiliki manusia. Islam menurut Charles Torrey memiliki istilah profesional dalam perdagangan seperti al imron 3:85. Meski maksudnya berbeda. Al baqarah 2:254 pinjaman di sini bisa diartikan sebagai kredit. Ayat al Syura juga bisa diartikan sebagai pertanian. Al baqarah 2:177 janji Prasetia dalam profesi.

Terlalu memperhatikan politik menyebabkan pehargaan profesi menjadi luntur. Muslim tidak menerapkan ajaran2 Islam tentang profesionalisme pada abad lalu, sehingga menyebabka ketertinggalan yang amat jauh dari bangsa Eropa.

Alquran (4:86), secara profesionalisme bagi produsen barang, akan bearti bila barang tersebut dipuji konsumen, maka meningkatkan kualitas barang merupakan timbal balik atas pujian. Penggambaran kehidupam yang lengkap merupakan Pemahaman yang baik atas Alquran. porsi ajaran politik dalam Islam sangat kecil dan untuk orang banyak, kepentingan rakyat.
Alquran 59-7 menunjukan bahwa Islam lebih memntingkah kebutuhan masyarakat dari pada negara. jika ini dipahami dengan baik, maka negara tidak akan seruwet ini.

.
8.       Islam: Agama Popular ataukah Elitis?

Thaha Husein mempelopori modern.isasi sastra dan bahasa Arab. Mempertahankan al-Madh hanya akan memperkuat tradisionalisme dan tidak akan menjadi wahana perubahan sosial di zaman modern. Sebab itulah bermunculan nama terkenal Syauqi Dhaif dan Suhair al-Qalamawi dalam pembaruan bahasa dan sastra Arab. Muncul pula madzab baru pendorong dinamika sosial. Akhirnya Produk tradisional dipinggirkan untuk kemajuan modernisasi bahasa dan Sastra Arab.

Kelompok nasionalis berkembang di Indonesia dengan pandangan anti tradisionalism di Mesir. Namun di Indonesia keduanya bisa membaur karena memiliki satu musuh yang sama modernisnme non ideologis orang Barat.Modernisasi dicap pengikis tradisionalis dan kebangsaan nasionalis. Sehingga lahirlah pembaruan bahasa dan sastra berkarakter kontemporer dengan tampilan agama tradisionalis.
Beragama haruskah tradisionalis semata atau ada pembaruan yang dianggap berbahaya?

9.       Islam: Apakah Bentuk Perlawanannya?
Gus Dur berpendapat bahwa K.H Mutamakkin yang wafat pada 18 M di Kajen merupakan tokoh fenomenal dan pelopor pendekatan baru dalam hubungan Islam dan kekuasaan negara pada abd ke 18 Masehi. Pada masa itu kaum Fiqih Islam pro pemerintah karena adanya adagium “Enam puluh tahun dalam pemerintahan penguasa yang bobrok, masih lebih baik daripada anarki semalam. Maka Kiyai Mutamakkin menurut kaum Fiqih dianggap telah melanggar syariah karena memasang lukisan binatang secara utuh dan sering menonton wayang.
Sedangkan Kaum Tarekat dan Tasawuf menentang penguasa, karena dianggap menimpang dari kebenaran formal agama. Karena itu pemerintah harus dilawan. Hanya saja ada yang mendukung ada pula yang tidak, karena itulah pemimpin tarekat banyak yang dihukum mati.
K.H Mutamakkin akhirnya menciptakan pandangan alternatif dengan memberikan contoh bagaimana seharusnya seorang pemimpin bertindak. Menampilkan ulama sebagai alternatif kultural sehingga memicu perlawanan rakat. Pendekatan kultural ini dikecam keras oleh politis yang menunjang penguasa.
Sehingga pada masa orde baru semua menjadi terbalik, pemimpin tarekat pro penguasa, sedangkan syatiar mentang penguasa. Namun haruskan perlawanan kultural dikembangkan terus di masa depan atau tidak? Maka jawabannya menurut Gus Dur sangat komplek. Bagi NU, organisasi non politis, pendekatan ini harus digunakan. Tapibagi organisasi politik tekanan harus diletakkan pada sistem politik bersih pada eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Kombinasi keduanya proses demokrasi di negeri ini dapat ditegakkan. Upaya berlakunya kedaulatan hukum dan adanya perlakuan warga yang sama di muka UUD.


10.   Islam: Ideologis ataukah Kultural? (1)

Pertunjukkan Qasidah Shalawat Badar yang diciptakan K.H Ali Mansyur telah menjadi khazanah budaya nasional atau paling tidak budaya NU. Pemberian bintang NU kepada keluarga almarhum dan penyebaran sajak tanpa disadari sudah menjadi budaya nasional.
Penyebaran budaya lslam melalui lagu qasidah dziba’iyah dengan cara damai tanpa peperangan. Apa yang dulu dinggap penyebaran Islam secara damai kini diterima sebagai adat daerah, contohnya perayaan Tabot di Bengkulu mulanya adalah sentral Syiah.
Sama halnya dalam pengistilahan DPR/MPR RI yang terpengaruh dari bahasa Arab, begitu juga dengan kata pemilihan “umum” berasal dari kata “sono.”

Pengambilan bahasa  Arab dan Sansekerta menunjukkan kemampuan beradaptasi banga kita. Jika diformulasikan dengan kehidupan sehari-hari, maka akan lebih luas maknanya. Seperti kata hukum, kata yang semula menunjukkan hukum dalam agama Islam yakni canonical law berkembang menjadi undang-undang dan perraturan negara. Belum lagi bila  mengkaji bahasa semu atau metafora dalam bahasa nasional kita. Masyarakt menjadi terkotak-kotakkan dan terisolasi dan hasilnya muncullah bahasa kekerasan.

Pembakuan arti sangat diperlukan, tanpanya kita akan tetap rancu dalam pemikiran dan kacau dalam pengertian. Akibatnya bangsa kita tidak tahu arah orientasi hidup. Nampak dari pernyataan anggota fraksi PDI dimana ia mengaku wakil partai bukan wakil rakyat. Demokrasi kita bukan lagi berihak pada rakyat tapi pada golongan tertentu. Demokrasi perlu dijaga oleh para pemikir/intelektual agar tidak menyimpang dari tujuan semula.   

Keinginan memasukan Piagam Jakarta pada pasal 29 UUD kita harus terus dikaji ulang. Bila itu terlaksana, maka memasukkan ideologi agama kepada ideologi negara. Dengan begitu akan memberika ideologi resmi pada negara, dan menjadikan penduduk non muslim sebagai kasta kelas dua, bahkan nasionalis dan sosialis yang terhormat pun turun derajat.   

Masih proses
11.   Islam: Ideologis ataukah Kultural? (2)

12.   Islam: Ideologis ataukah Kultural? (3)
13.   Islam: Ideologis ataukah Kultural? (4)
14.   Islam: Ideologis ataukah Kultural? (5)
15.   Islam: Gerakan ataukah Kultur?
16.   Islamku, Islam Anda, Islam Kita
17.   Kaum Muslimi dan Cita-cita
18.   Islam dan Orientasi Bangsa





Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^