Fafavoice, catatan Fafa

Review Buku Milana: Gadis Senja



Judul Buku     : Milana
Penulis            : Bernard Batubara
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan          : II Mei 2013
Tebal              :192 hlm; 20 cm
ISBN                : 978-979-22-9507-8
Peresensi       : Lathifah Inten Mahardika

Menunggu adalah sebuah perkerjaan yang tidak semua orang bisa melakukannya. Selain melelahkan, menunggu menjadi hal terakhir yang dilakukan seseorang dengan segala upaya dan daya yang telah diusahakan sebelumnya. Begitulah secara garis besar isi dari kumcer karya lelaki yang menyukai seni ini. Ya, bisa jadi semua orang tidak menyukai hal yang disebut menunggu, karena menunggu membutuhkan kesabaran, sifat yang belum tentu dimiliki oleh semua manusia. Tapi menunggu seorang telah begitu kuat singgah di hati kita adalah sebuah ritual mistis, dimana bisa memaksa ego dan menarik titik kesabaran hingga pada sebuah arah yang tak bertepi. “Tak pernah terpikirkan oleh Suhana bahwa ia akan berada dalam penantian yang panjang, sangat panjang hingga seakan tak berujung, dan ia dipaksa untuk terus bersabar”(Goa Maria). Dilain kisah hal yang berbau menunggu juga kerap didiskripsikan dengan berbagai kata, “Dan sejak itu, pagi yang tua itu selalu menanti. Aku bingung. Memangnya cinta harus selalu menanti? Ah, aku ini hanya angin dan tugasku hanya membawa kabar. Oh ho ho!”(Beberapa Adegan yang Tersembunyi di Pagi Hari).

Bahkan cerpen terakhir yang menjadi judul dari kumcer ini juga tak luput dari sebuah penantian panjang. Perempuan yang menunggu senja bernama Milana. Menunggu kekasih yang bahkan ia tahu betul tidak akan pernah kembali. Senjalah yang menjadi sebuah ikatan diantara Milana dengan kekasihnya. “Itu pertemuan kedua saya dengan perempuan pelukis senja. Kali ini saya sudah tahu namanya. Milana. Ia bercerita mengapa ia melukis senja. Dan mengapa ia selalu melakukannya di atas feri yang menyeberangi Selat Bali, dari Banyuwangi ke Jembrana. Ia sedang menunggu kekasihnya”(Milana). Ah, begitulah, menunggu, perkerjaan yang pasti akan dialami oleh kebanyakan orang, menunggu menjadi istimewa ketika seseorang yang ditunggu adalah orang yang dicinta.

Selain soal menunggu, tema besar yang diangkat dari kumcer ini tidak lain adalah cinta, hal yang tidak pernah lepas dari kehidupan sehari-hari. Namun cinta disini bukan hanya mengisahkan cinta sepasang kekasih yang cumbu asmara tapi juga cinta antara saudara (Jung), cinta antara tetangga (Lelaki Berpayung dan Gadis yang mencintai Hujan), cinta seorang guru dan muridnya (Malaikat), bahkan cinta kepada diri sendiri (Cermin), seperti yang tergambar dari beberapa kalimat berikut, “Seiring waktu berjalan, Wono menjadi tergila-gila dengan wajahnya sendiri. Pagi, siang, sore, malam dihabiskannya hanya untuk bercermin. Kalaulah ia seorang perempuan, pasti ia akan langsung jatuh cinta kepada lelaki di cermin itu. Walaupun tanpa itu ia pun sudah mulai jatuh cinta kepada dirinya sendiri”(Cermin).

Setiap cerpen menawarkan berbagai babak dengan latar belakang serta tokoh yang beragam. Dengan begitu pembaca tidak akan cepat bosan dengan tema yang itu-itu saja. Dari total 15 cerpen konsep latar belakang yang ditampilkan antara lain perkampung, metropolitan, hingga tikungan jalan, “Sementara, Sesuatu sedang menatap tikungan itu jauh dari atas sana―tikungan yang membentuk senyuman itu. Sebenarnya, sudah lama tikungan itu tersenyum. Bahkan sejak pertama kali ia berada di sana. Dan sekarang senyumannya semakin lebar saja”(Tikungan).

Bara mampu meramu paragraf demi paragraf menjadi sebuah cerpen yang santai dan mudah dicerna, dengan sudut pandang orang pertama, hingga pembaca seolah-olah memerankan tokoh utama dalam tiap adegannya. Sayangnya bentuk penceritaan yang naratif dan deskriptif dengan tidak menampilkan banyak dialog akan membuat pembaca cepat bosan dan jenuh. Eksekusi akhir dari kebanyakan cerpen tidak terlalu membahagiakan atau bisa dibilang sad ending, jadi bagi pembaca yang lebih menyukai akhir yang bahagia cerpen ini tidak saya sarankan. Cerpen ini saya sarankan bagi remaja dan dewasa tidak untuk anak-anak karena beberapa kisah memiliki alur yang rumit dan akhir yang tidak mudah dipahami.

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^