Fafavoice, catatan Fafa

REVIEW FILM ASIMETRIS



Siapa yang Membayar Harga Mahal Ini? 
Kita Sebagai Konsumen atau Mereka, Orang Rimba

Film dokumentasi garapan Dandhy Laksono ini sudah diputar di 26 Daerah di seluruh Indonesia pada putaran perdananya. Apa yang membuat film ini menarik untuk ditonton pemuda terlebih mahasiswa?

Sepertihanya kedelapan film garapan Dandhy sebelumnya. Tema film Asimetris tidak jauh dari ketimpangan sosial tidak lain yakni dampak perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Dandhy dan keselebelas videografer menampilkan secara realistik bagaimana kehidupan “korban” dari industri Kelapa Sawit dengan wawancara langsung kepada mereka dan ekploitasi lahan besar-besaran atas hutan di Papua, Sumatera dan Kalimantan.

Mulanya dalam Film Asimetris ini menampilkan produk sehari-hari yang digunakan masyarakat Indonesia, seolah-olah menunjukkan masyarakat Indonesia bahkan dunia tidak akan bisa hidup tanpa menggunakan minyak beserta produk turunanya. Coba produk mana yang tidak menggunakan minyak? Peralatan mandi, produk kosmetik, bahan makanan sampo, sabun, detergen, lotion, minyak wangi, gorengan di pinggir jalan, dipastikan semuanya menggunakan minyak! Ketergantungan kita dengan minyak merupakan sebuah keniscayaan.

Sayangnya minyak yang diproduksi dari perkebunan kelapa sawit membutuhkah lahan yang tidak sedikit. Untuk itulah hutan-hutan Indonesia dibabat habis. Untuk proses pengalihan lahan, pertama-pertama lahan harus dalam keadaan “bersih,” pembakaran hutan secara ilegal menjadi jurus tercepat. Dengan begitu kita pasti sudah bisa menebak siapakah yang bertanggungjawab dengan kabut asap yang berdampak pada 97juta jiwa pada tahun 2015 hingga sekarang.

Lagi-lagi selalu ada korban yang menjadi kambing hitam. Orang-orang rimba yang hidup dan matinya mengantungkan diri dengan hutan dituduh sebagai penyebab ketika akan menggunakan lahan, memang mereka juga membakar hutan tapi apakah sama? Suku Dayak yang diwawancara langsung menjelaskan dalam menyiapkan lahan untuk digunakan ada prosedur dan tata cara keadatan yang sangat ketat, pertama setelah menentukan lahan yang akan digunakan mereka menebang pohon yang besar-besar, setelah itu pohon yang berukuran sedang, semuanya untuk digunakan kembali, tidak ada yang sia-sia. Proses pembakaran pun dilaksanakan oleh seluruh anggota keluarga secara bergotong-royong, titik api dijaga setiap sudutnya agar tidak menjalar ke tempat lain. Semua anggota keluarga ikut berkontribusi. Bahkan sangsi adat secara tegas menyatakan bagi siapapun yang dengan sengaja memetik daun tanpa ada tujuan didenda 500 kain merupakan sangsi yang paling berat adalah merusak hutan. Selain itu ketergantungan orang rimba dengan hutan dengan menanam tanaman setiap menanam ari-ari dari bayi yang lahir serta mengukir nama bayi pada pohon yang besar. Seolah hidup mereka bergantung pada hutan.

Eksistensi orang rimba terancam dengan pengubahan istilah “Orang Rimba” menjadi “Suku Anak Dalam”. Padahal kedua penyebutan itu jelas memiliki arti yang berbeda, orang rimba adalah orang menggantungkan hidupnya sepenuhnya dari hutan, sedangkan suku anak dalam adalah orang-orang yang tinggal di hutan. Entah apakah ada maksud tersembunyi dari pengubahan istilah ini, Kita tau dalam film Asimetris ditampilkan bahwa PWI dan pemerintah mendukung Industri Kelapa Sawit di Indonesia. Industri yang menopang 16 juta rakyatnya dengan perkebunan seluas 11 juta hektar tidak lain sebesar pulau Jawa.

Film Asimetris juga menampilkan potret ketimpangan sosial yang dialami buruh Kelapa Sawit, mereka dieksploitasi secara terang-terangan. Anak SD berkerja dengan mengumpulkan Daun kelapa sawit yang kering, perkerja wanita yang sudah lebih dan puluhan tahun berkerja akan selamanya dicap sebagai freelance atau perkerja lepas, berangkat pukul 3 pagi dan pulang pukul 3 sore dengan gaji 30-50rb per hari. Pekerja lepas yang artinya tidak ada UMR, tunjangan di hari tua, atau asuransi ketika sakit, gaji harian hanya bisa untuk makan, mengingat harga pokok di luar Jawa jauh lebih mahal.

Memang hanya ada satu kesalahan Dandhy dalam film ini, tidak menambahkan komentar dari pemilik pabrik Kelapa Sawit, dan saya yakin dia sangat bisa melakukannya. Tapi dengan secara sengaja tidak ingin. Karena jelas di sini Dandhy menekankan berpihakannya pada warga dan masyarakat yang tertindas. Lantas apakah dengan jelas di film Asimetris ini mengajak warga dengan terangan-terangan memboikot produk kelapa sawit beserta turunannya? Atau dengan sengaja melawan komoditas terbesar Indonesia yang menjadi tumpuan orang banyak.

Tentu tidak, Dandhy hanya ingin menyampaikan fakta lapangan yang ada tanpa melebih-lebihkan dampak yang telah dinikmati perkerja ataupun yang didera rakyat Indonesia yang lain. Lalu bagaimana dengan sikap kita setelah mengetahui segala fakta yang ada? Itulah yang perlu dipertanyakan. Sia-siakah film yang dikerjakan selama 3 tahun ini? Kita bisa aja beraksi seperti turun ke jalan atau hal yang paling kecil seperti membuat status di medsos yang kemudian akan diikuti banyak orang, dan terakhir kita bisa saja diam bersikap apatis dan tidak berbuat apa-apa. Semua ada di tangan kita.

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^