Fafavoice, catatan Fafa

Urgensi Memahami Hadis




Sunnah atau hadis digunakan sebagai pendoman hidup umat muslim sepanjang zaman kedua setelah Alquran. Posisi hadis sangat penting dalam menentukan hukum dalam menjalankan kehidupan sosial sebagai umat muslim, namun berbagai macam problematika umat yang bertambah dan selalu berganti di setiap masa menuntut manusia untuk terus bergerak atau bermobilitas.

Permasalahan-permasalahan yang belum pernah dibahas di dalam Alquran atau sunnah rasul, menyebabkan ulama maupun tokoh Islam terus menerus mengkaji Alquran dan sunnah untuk menemukan jawaban-jawaban dari problematika sosial yang ada.

Setelah melalui berbagai riset, tidak semua kalimat dalam Alquran maupun sunnah dapat dipahami apa adanya, selain kualitas hadis yang bisa dihukumi sahih, hasan dan dhoif, ada beberapa matan hadis yang tekstual pun ada pula yang kontekstual. Namun tidak semua orang pada umumnya mengetahhui hal ini, dan cenderung menggunakan berbagai hadis nabi yang telah diyakini meski tidak benar-benar mengerti makna sebenarnya. Hal ini lah yang menjadi permasalahan besar dan PR umat Islam bersama.

Perkembangnya hadis pada masa setelah wafatnya Rasulullah tidak sepenuhnya murni, banyak kepentingan yang ikut larut di dalamnya. Untuk menjaga kemurnian hadis sebagai sumber hukum dan peninggalan Nabi, para ulama ahli Hadis meneliti ribuan hadis-hadis tersebut dalam segi redaksi matan dan dhabit serta kejujuran salah seorang perawi, sehingga hadis diklasifikasikan menjadi beberapa macam, yaitu shohih, hasan dan dhoif.

Usaha ulama yang luar biasa dalam mencurahkan perhatiannya untuk penelitian hadis telah melahirkan berbagai karya, yang sekarang lebih akrab kita kenal dengan kitab hadis. Hingga sekarang kitab-kitab hadis masih digunakan sebagai rujukan hukum Islam, seperti Shohihh Bukhari, Shohih Muslim dan lain sebagainya.

Namun perlu diketahui sebenarnya penelitian hadis belum tuntas sampai disitu saja, selain matan dan dhobit atau kejujuran dari perawi harus ditelusuri di tiap-tiap sanad hadis tersebut, begitu pula pembanding hadis dengan redaksi yang sama namun perawi yang berbeda, sehingga hadis bisa saling menguatkan atau bahkan melemahkan.

Maka sebagai umat Nabi di akhir zaman, wajib kiranya bagi kita untuk memastikan ke-shohihan hadis yang hendak kita amalkan. Jangan sampai kita larut berdebat dalam penggunaan hadis-hadis dhoif, terlebih hadis palsu atau maudhu’.
Hingga  kini hasil pemikiran para ulama banyak yang berbuah karya berupa buku-buku atau lembaran karya tulisan, masih banyak masyarakat yang belum benar-benar memahaminya. Untuk itulah diskusi dan ceramah dalam arti menyampaikan informasi kepada masyarakat umum perlu digencarkan dan ditingkatkan, tentu umat Islam akan bisa bersikap dan berbuat lebih baik sesuai amalan-amalan Rasulullah.

Hadis sebagai pusat hukum dan rujukan kedua dalam islam, memiliki posisi dan peran penting yang bisa dibilang amat krusial. Hadis amat berbeda dengan Alquran yang bersumber langsung dari kalamullah, dimana Alquran bersifat mutlak kebenaranannya dan absolut redaksi kepenulisannya.

Allah telah berjanji  melindungi isi Alquran dari tangan-tangan yang ingin merusaknya, sehingga bentuk dan isi Alquran dari zaman Nabi Muhammad ketika pertama kali diutus hingga zaman modern tidak mengalami perubahan sedikitpun. Namun, hadis yang bersumber dari qouliyah, fi’liyah dan taqririyah Rasulullah yang disampaikan oleh para sahabat melalui jalur periwayatan memiliki banyak kekurangan.

Manusia sebagai makhluk yang fana, tentu pernah melakukan kesalahan, sehingga mempengaruhi kebenaran hadis itu sendiri. Untuk itulah wajib bagi umat muslim dimanapun dia berada untuk memahami hadis dan tidak menggunakannya tanpa meneliti sebelumnya.



Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^