Fafavoice, catatan Fafa

Hukum Menuntut dan Penuntut Ilmu, Kewajiban Bermadzab, Taklid dan Tajdid Kewajiban Menuntut Ilmu



Thalabul Ilmi Fardihotun ala Kulli Muslimin wa Muslimah” hadis Nabi yang sudah umum dipahami kebanyakan masyarakat Islam ini berlaku setelah masa baligh dan pemahaman keislamannya. Memahami dua kalimat syahadat beserta maknanya, meski tidak diwajibkan memahami secara gamblang cukup meyakini tanpa keraguan meskipun dalam keadaan taklid (masuk Islam karena lingkungan atau orang tua yang Islam sejak lahir) adalah salah yang harus dipahami.

Selanjutnya tentu kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah, seperti Sholat ketika sudah diwajibkan (masa baligh, wanita ditandai dengan menstruasi, dan lelaki dengan mimpi basah) begitu juga puasa, memahami keilmuan zakat ketika memiliki harta yang wajib dizakatkan. Kewajiban memahami disiplin keilmuan tertentu disesuaikan dengan kebutuhan, maka sebelum kewajiban itu tiba waktunya akakankah lebih baik memahami terlebih dahulu. Anak yang belum baligh diajarkan tata cara shalat dan puasa yang benar, anak perempuan diajarkan adab ketika menstruasi dan shalat yang perlu diqada, kewajiban dan larangan pada masa itu.

Konsekuensi Bagi Yang “Tak Tahu”
Meski memahami ilmu sebelum hajat atau kebutuhan seseorang dihukumi sunnah, besar menafaatnya untuk menghidari kesalahan-kesalahan yang berakibat fatal. Karena ilmu agama itu luas alias seabrek butuh waktu yang tidak sedikit untuk mempelajarinya, sekali salah ada beberapa yang akibatnya fatal. Semisal seseorang yang sudah baligh berwudu dengan air mustakmal (bekas air sisa berwudhu suci tapi tidak mensucikan) sholatnya tidak sah, katakanlah selama puluhan tahun menjalankan demikian ya tetap tidak tidak sah. Seseorang berkata pada istrinya “Punggungmu seperti Ibuku” maka langsung jatuh talak bain (talak mutlak tidak bisa ruju’ harus cerai dan ada tahalul). Orang yang berpuasa Ramadhan membersihkan telinganya dengan cutton bud, berenang di kolan renang atau berbuka sebelum waktunya dan sahur setelah waktunya karena dikira mendengar adzan tapi ternyata keliru, hukumnya tidak sah, batal semua ibdahanya dan wajib mengulang. Berat yaa hahaha, yaa kalau gampang semua orang udah masuk surga kali yaaa,

Lah, kan saya tidak tahu, tidak masalah toh? Nah, inilah kesalahan asumsi yang dianut banyak orang awam. Mengaku dirinya tidak tahu apa-apa sehingga menurutnya ya gak masalah karena gak tahu. Terus kemana dia selama ini berada? Pergi ke pengajian atau setidaknya bertanya pada Guru ngaji atau ustad apa susahnya, jaman sudah terlampau canggih banyak buku yang bisa dibeli melalui online atau di toko buku, atau paling tidak mencari ilmu lewat internet tapi yang jelas sumbernya jangan yang tabasyuh ntar semakin sesat lagi. Sudah dijelaskan di berbagai kitab terlebih dalam kitab Fathul Muin

“Alim la jahil biannama tak’tohu muftirun li kurbi islamihi au nasyihi bibadiyatin baidatin amman ya’rifu dalik” (Bab Shoum)

berulang-ulang telah dijelaskan yang dimaksud kondisi ketidaktahuan dengan dispensasi agama adalah dimana dia adalah mualaf (orang yang baru masuk Islam selang beberapa bulan. Bukan yang belasan tahun seperti kita yang Islam sejak mbrojol ha-ha) atau tidak ada akses sama sekali tentang informasi, semisal dia hidup di pulau terpencil nan jauh di sana tidak ada internet, tidak ada akses transportasi ataupun guru agama di sekitar lingkungan tersebut. Maka sah-sah saja dia tidak tau apa-apa. Jadi jangan kaget nanti di akhirat kalau timbangan kita sedikit padahal merasa amalnya banyak karena sebagian besar tidak memenuhi kriteria.

Ada sebuah cerita, syaitan hendak pergi ke masjid untuk menggoda orang-orang yang sedang shalat disana, tapi gak jadi, ia mengurungkan niatnya. Anda tau kenapa? Karena di sebelah pintu masjid ada seorang alim yang sedang tidur siang alias bocin, bobok cantik. Jika semisal si syaitan jadi masuk ke masjid dan tiba-tiba membangunkan si alim tadi bi bahaya. Jika si alim bangun dan mengetahui orang-orang yang sholat di masjid salah semua caranya dan tidak diterima ibadahnya, ia langsung membenarkan sholat mereka, sehingga Allah menerima sholat mereka, kan lebih bahaya. Untuk itulah syaitan urung menggoda orang-orang yang sholat agar tidak membangunkan si alim yang tidur.

Maka dari itu dalam Musktashor Ihya juga menjelaskan memahami keilmuan yang sesuai kebutuhan dihukumi Fardhu Ain (diwajibkan per seorangan), sedang ilmu selainnya hukumnya fardhu kifayah (tidak diwajibkan perorangan, melainkan cukup satu di setiap desa). Hirearki keilmuan tertinggi sesuai kadar kedekatanya pada akhirat, jadi mempelajari ilmu syariat atau akidah lebih diutamakan, barulah ilmu yang berkaitan dengan kebutuhan syariat dan hukum-hukum alias ilmu fiqh. Karena fiqh-lah yang menentukan apakah ibadah itu hukumnya sah atau rusak diterima ataupun ditolak.  Jadi ditolak itu gak cuma pas nembak cewek atau ngelamar aja loh ya, anjay.

 Kewajiban Bermadzab;
Ulama-ulama populer (bukan dai’ youtube ya itu gak masuk populer di sini) dimana sekelompok manusia menganut pola pikirnya, mereka telah mengkolaborasi ilmu fiqh dan ilmu hakikat serta mengamalkannya. Dikenal dengan kemampuan kasyf dari tingkah laku manusia jumlahnya lima yaitu;Syafi’i, Malik, Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal, dan Sufyan As-Sauri Semoga Allah merahmati mereka semua. Semua dari kelima itu adalah orang yang ahli ibadah. Zuhud (Tidak cinta dunia) dan Alim dalam ilmu akhirat seperti halnya alim dalam ilmu fiqih yang berkaitan dengan kemaslahan ummat. Apa  yang mereka harapkan dari seluruh ilmu yang dimiliki bukan cuma terkenal atau mampang di TV(Hal-hal remeh kayak gini gak penting bagi mereka, kalau terkenal ya itu bonus, soalnya memang niat awalnya bermanfaat buat banyak orang)  tapi yang terpuenting bagi mereka adalah ridho-nya Allah. Maka kelima ulama ini berhasil diikuti oleh ahli Fiqh pada masa-masa itu.

Taklid dan Tajdid
Mengikuti pendapat kelima madzab ini disebut taklid, artinya ya kita mengikuti hukum-hukum dan kriteria ibadah yang sudah mereka tetapkan melalui kitab-kitab yang mereka karang ataupun pengikut-pengikutnya. Taklid sangat membantu orang-orang awam, tidak mudah memahami Alquran dan hadis dikaitkan dalam kehidupan bermasyarakat tanpa ada yang membimbing. Posisi madzab ditujukan pada seseorang dengan keilmuan yang sangat-sangat tinggi, apalah-apalah kita hafal juz amma aja belum tentu wkwkwk. Tapi terbatas pada satu madzab saja, semisal syafi’i ya begitu seterusnya. Taklid ini menyebabkan tertutupnya pintu ijtihad, jadi jika ada problema baru mencari solusi permasalahan hukum disambung-sambungkan dengan hukum sebelumnya, sehingga banyak terjadi kemaukufan alias mandek hukum.  

Sedangkan tajdid yang atau pembaruan dipelopori oleh Abdurrahman Wahid yakni membuka jalan itihad dan penolakan terhadap taklid, tapi tetap dalam koridor bermadzab. Bermadzab secara manhaji, tidak hanya satu madzab saja, sehingga hukum menjadi lebih fleksibel sesuai dengan tuntutan zaman dan kemaslahatan ummat. Banyak hukum-hukum baru yang tidak dijelaskan dalam kitab-kitab terdahulu Ulama bisa menggunakan tajdid. Terlebih masalah terorisme, zaman berubah jangan seenak jidad ngebom orang terus lari gak tanggung jawab :v hal ini justru memunculkan banyak prespektif negatif atas agama dan masyarakat Islam. kecuali Hamas di Palestina loh ya, masa iya tetangga kita dibunuh tanpa salah terus kita diem aja, tega deh.  

Sumber;
Sebagian besar dari kitab Muhtasor Ihya Ulumuddin karya Alawi Abu Bakar Muhammad Al-Ahqof,
Kenangan dan Ingatan waktu ngaji dulu (gak selamanya kenangan dari mantan loh ya wkwk :v)
Beberapa dari kitab Fathul Muin karya Zainuddin Abdul Azizi  Al Malaibari dan artikel Pembaruan Abdurrahman Wahid: Gagasan dan Strategi oleh Hairus Salim HS



Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^