Fafavoice, catatan Fafa

Reading Challenge FLP, Membiasakan Membaca Itu Mudah




Dunia literasi Indonesia masih mengalami stagnasi dengan buruknya minat baca masyarakat Indonesia. Dikutip dari http://webcapp.ccsu.edu, survei yang dilakukan Central Connecticut State Univesity pada tahun 2016, Indonesia menempati urutan ke-61 dari 62 negara kategori The World’s Most Literate Nations.

Kondisi ini diperparah dengan banyaknya pencarian menggunakan search engine/ mesin pencari. Menurut tirto id. ada 3,5 milyar pencarian oleh Google setiap harinya. Kemudahan teknologi berdampak kemudahan mencari informasi, cukup sekali klik, tidak perlu jauh-jauh pergi ke perpustakaan. Tapi kredibilitas informasi dalam mesin pencari sebatas 52%, sedangkan buku/dokumen pustakawan level kualitasnya jauh di atasnya yakni 84%.

Membiasakan membaca buku di era 4.0 ini gampang-gampang susah. Sudah disediakan berbagai pdf gratis ataupun aplikasi membaca buku gratis seperti halnya google play book, watpad, goodreads, moco dll. Kemudahan membaca buku gratis segaris dengan godaannya, keinginan untuk streaming youtube, update media sosial, dengan mudah bisa melumpuhkan niat awal untuk membaca buku.

Salah satu upaya yang dilakukan FLP untuk menarik minat baca Indonesia dengan melaksanakan program “Reading Challenge” (RC) . Organisasi literasi ini menggagas tantangan membaca dengan sistem setoran jumlah halaman di grup what’s app. Beberapa aturan dan tantangan dibuat untuk memompa semangat. Peserta yang tidak memenuhi target akan diberi peringatan berupa tanda ! dan x. Hingga jumlah tertentu maka peserta akan dinyatakan gugur atau tinggal kelas. Bagi peserta yang tinggal kelas harus mengulang kelas dari awal, tentu sangat disayangkan bukan!
RC terdiri dari empat level atau kelas, R(Reading), MR(Medium Reading), HR(Hard Reading), SR(Super Reading). Setiap kelas memiliki target dan tantangan yang berbeda; jumlah halaman minimum perharinya, kategori buku, ulasan buku, hingga bertukar buku. Adanya kelas selain menambah tantangan membaca, juga mempertahankan rivalitas yang memacu peserta untuk berkompetitif satu sama lain.

Semakin tinggi kelasnya semakin berat pula tantangan yang harus dihadapi. Jika kelas R cukup membaca 5 halaman perhari, maka kelas SR harus membaca 50 halaman sehari, menghatamkan kategori buku setiap 8 hari, mengulas buku berupa tulisan yang wajib diposting di blok setiap 2 pekan sekali, bertukar buku antara anggota. Estimasi tiap kelas selesai selama 50 hari lamanya.

Akhirnya dengan program ini, penulis sangat terbantu. Kebiasaan baik untuk membaca buku menjadi rutinitas keseharian. Penulis sendiri mengalami kendala dalam mencari kategori buku, kelupaan menyetor bacaan di grup, atau waktu pengkhataman kategori buku yang terkadang terlalu mepet. Adanya program “Reading Challenge ini bisa dicontoh oleh pegerak literasi lain untuk mewujudkan budaya literasi yang baik. Namun lagi-lagi kebiasaan masyarakat Indonesia yang kurang disiplin bisa menjadi hambatan utama. Untuk itulah perlu kesadaran dan kesanggupan masing-masing anggota sehingga program bisa berjalan dengan baik.

Siapa yang tidak ingin bangsa Indonesia maju dan semakin pintar? Meski banyak rintangan dan kebiasaan yang harus diubah, tidak ada yang mustahil. Banyak cara yang bisa ditempuh selain dengan program “Reading Challenge”. Apapun itu semua bertujuan sama, meningkatkan literasi di Indonesia. Semua juga dimulai dari hal yang sama, dari diri sendiri.


Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^