Fafavoice, catatan Fafa

Terima Kasih Telah Menjadi Sahabatku


 

 

Tema #1   Surat Untuk Sahabat

Aku bersyukur punya banyak teman dan sahabat yang selalu mendukung kegiatanku. Bersama sahabat sejati, aku tidak perlu bingung mau ngomong atau mau melakukan apa. Bersama mereka, aku bisa menjadi diriku seutuhnya. Aku yang aneh dan enggak jelas, kadang diam, kadang cerewet, suka berwacana, tetapi kalian tetap mau menjadi sahabatku, terima kasih, it’s meant a lot for me.

Terima untuk sahabatku di pesantren, Mbak Lia dari Kota Batik, Kiki yang lahir di Kota Mangga, Elmi yang berasal dari Pulau Garam, Azizah yang menetap di Kota Santri dan Malikha yang kini tinggal di Kota Atlas. Ingin sekali kumelompat dan jatuh tepat di depan rumah kalian. Ayo menjelajah seperti dulu, naik sepeda motor dan tersesat, menjadi memori yang tidak terlupakan.

Sahabatku di bangku kuliah Iif, Sita dan Vina yang kembali ke kampung halamannya. Aku sangat merindukan kalian semua. Teman-teman seperjuangan di FLP Surabaya, telebih Ratna dan Ihdina yang selalu ada untukku. Juga terima kasih teman-teman Komunitas Postcrossing Surabaya. Untuk sahabatku di program Bonya Masjid Pemuda, terima kasih.

Sekali lagi, terima Kasih Menjadi Sahabatku.

Berawal dari Pembulian

Dulu aku pernah dibuli parah ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Tiga tahun aku mengalami kekerasan fisik, verbal dan lainnya. Hariku dipenuhi rintik hujan, aku yang masih kecil, memilih untuk bungkam sampai duduk di bangku kelas enam.

Lingkaran pertemananku pun sangat terbatas. Trauma membuatku menutup diri secara otomatis. Aku membangun dinding yang memisahkan aku dan devinisi seorang teman. Teman SD dan SMP bisa dihitung jari.

Makasyih Mbak Lia

Trauma itu aku bawa terus sampai masuk pondok, tidak ada yang berubah berteman sekadarnya. Sampai suatu ketika tangan kananku kena penyakit kulit khas anak pesantren yang akrab disebut gudiken.

Cairan kuning dan nanah yang terasa perih dan gatal. Aku membiarkannya saja, kupikir nanti juga pasti bakal sembuh. KBM kujalani seperti biasa. Luka di tanganku pun bertambah parah dan bengkak.

Mbak Lia tiga tahun lebih tua adalah kawan akrabku. Ia begitu dewasa dan sangat cerewet, suka menasehati tapi juga melindungi. Karena kami sama-sama tidak sekolah, jadi memiliki waktu lebih banyak ketika KBM di siang hari.

“Kenapa tanganmu tidak segera diobatin?” tanya Mbak Lia. Aku hanya terdiam, karena tidak tahu caranya. Dia langsung izin ke UKS, mengambil amoxilin, mengeluarkan isinya dan menaburkan serbuk kuning itu di tanganku.

Di luar dugaanku lukaku cepet kering  dan tidak terasa perih. Mungkin ini begitu sederhana, tapi aku terharu. Memori pertama tentang memiliki seorang sahabat yang luar biasa.

Kiiii, ayo ikut aku!

Kiki namanaya, kelahiran Kota Manga. Sebenarnya pola pikir, kebiaasaan, cara ngomong kami sangat berbeda. Namun takdir mempertemukan kami dalam satu divisi perpustakaan dan kebersihan.

Perempuan yang ceria, rendah hati kepada siapun, suka ngikut-ngikut. Mau aja kamu, aku suruh-suruh ya Ki! Aku yang terlalu kaku pernah membuatmu menangis. Hah, teman macam apa aku? Maafin aku Ki.

Karena begitu dekatnya, seolah-olah dimana ada kiki, disitulah ada aku. Kami selalu satu divisi, ya kami selalu mengabdikan diri ke pesantren dengan tugas kerja yang sama.

Ayo buka puasa bareng, Mbak Elmi

Hatiku terbuka kembali dengan berbagai karakter teman-temanku di pesantren. Mbak Elmi yang pekerja keras, mengabdi kepada pondok tanpa mengharap apapun. Ia bahkan rela enggak ikut KBM. Setiap hari selalu mengantar santri-santri yang sakit ke puskesmas, klinik, Rumah Sakit bahkan mengantar mereka pijat. Meski jarang ikut kelas, Mbak Elmi wisuda tepat waktu.

 Pada mbak Zizah, Malikha dan semuanya aku begitu bersyukur. Allah menuliskan takdirku bersama kalian. Itu semua enggak akan pernah kulupakan. Biarlah doa-doaku menjadi saksi betapa rindu tidak akan pernah mampu menipu hati.

Teman-temanku yang baik dan percaya padaku. Kita saling berprasangka baik, berpikiran positif dan selalu menganggap yang lain melebihi dari dirinya sendiri.

Tidak perlu menjadi spesial, menjadi diri sendiri adalah hal yang menarik di mata sahabatmu.

Hingga saat ini aku tidak pernah tahu apa hal yang menarik dari diriku. Sehingga aku dipertemukan dengan sahabat yang baik dan sayang denganku. Suatu kehormatan di samping kalian saat Allah mengabulkan doa-doa baik kita.

Semoga kita bisa duduk bersama lagi pada suatu sore, tertawa lepas, menikmati waktu yang membeku. Kalian yang begitu yakin bahwa aku bisa bangkit dan aku yang mampu menggapai mimpiku.

Menerimaku ada apa adanya. kamu dan aku yang menjadi diri sendiri dan tidak perlu berpura-pura. Kamu dan aku yang nyaman tanpa berkata-kata. Bercerita dari hal-hal remeh, serius, hobi, kerjaan. Kamu yang datang padaku terlebih dahulu dan aku yang menjangkaumu.

Terima kasih sudah mempercayaiku.

 

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^