Fafavoice, catatan Fafa

Budaya Patriarki: Budaya Fatherless Family



Fatherless Family atau keluarga tanpa peran ayah merupakan fenomena yang umum kita temui di Indonesia. Sangat disayangkan tidak adanya peran atau keterlibatan ayah baik secara fisik ataupun psikologi dalam suatu keluarga menjadi suatu yang wajar menurut mayoritas keluarga Indonesia.

Tugas rumah tangga, termasuk membersihkan rumah, merawat dan mendidik anak diserahkan sepenuhnya kepada seorang Ibu. Tugas ayah hanya mencari nafkah. Berkerja dari pagi hingga sore, memikirkan bagaimana cara agar kebutuhan anggota keluarga lainnya terpenuhi.

Indonesia disebut menempati posisi ke 3 sebagai negara fatherless country seperti artikel berjudul “Mensos: Indonesia Rangking 3 Fatherless Country di Indonesia” oleh wartaekonomi.or.id atau artikel berjudul “Indonesia Jadi Negara Fartherless Ketiga di Dunia: Ini Peran Penting Ayah dalam Mengawal Tumbuh Kembang Anak” oleh theasianparent.com. Namun disitu tidak dijelaskan sumber/organisasi yang menerbitkan data. Data primer juga tidak saya temukan di Internet.

Jadi menurut pendapat saya, embel –embel rangking 3 jadi kurang kredibel. Yang pasti isu keluarga tanpa peran ayah bersumber dari ajaran patriarki yang sudah lama ada di Indonesia, lebih luas di Asia. Tipikal keluarga Asia dimana perah ayah bersifat pasif pada tumbuh kembang pendidikan anak. Ayah yang tidak dekat dengan anak – anaknya. Anak yang kemudian bingung bagaimana memulai obrolan dengan ayah kandungnya sendiri. Anak yang canggung ketika hanya berdua dalam satu ruang yang sama.

Nyatanya ajaran agama apapun itu selalu menjelaskan peran penting orang tua, terlebih ayah sebagai role model pendidikan utama anak – anak. Bahkan ayah – ayah di negara maju di berbagai dunia selalu mendampingi anak – anaknya menurut data UNICEF.

Finland, negara dengan pendidikan terbaik di dunia mengaku ayah – ayah di Finland lebih sering meluangkan waktu bersama anaknya yang berusia sekolah dari pada Ibu. Sebegitu pentingnya peran ayah dalam membantu perkembangan pendidikan anak. Maka mari memahami isu keluarga tanpa peran ayah ini dengan baik dan berusaha menjadi solusinya.


 

Latar Belakang Fatherless Country

Budaya Patriarki

Kita adalah anak kandung patriarki dimana opini masyarakat pada umumnya selalu menyalahkan dan merendahkan wanita dan cenderung mengunggulkan laki – laki. Meski gerakan feminisme semakin masif, tidak serta merta mampu mengubah pandangan mayoritas warga Indonesia.

Tidak perlu mencari data, karena fakta begitu nyata di depan mata. Tengok bagamana keluarga besar, tetangga, dan orang lain menilai dan memperlakukan wanita dan laki dengan begitu berbeda. Ketika anak sakit, anak premature, anak jatuh, anak tidak pintar. Semua kesalahan itu akan menunjuk ke tugas Ibunya. Padahal anak lahir karena hasil kerja keras pertaruhan hidup dan  mati seorang ibu. Ibu juga berperan aktif mendidik anak, menyekolahkan hingga dewasa.

Bahkan budaya partiarki ini lebih sering terjadi antar sesama wanita, saling menjatuhkan, merendahkan, tidak mempercayai dan sebagainya. Sesama ibu yang saling julid, antara nenek dan ibu, bulek dan ibu dan sebagainya. Lalu dimanakah peran ayah? Pernahkan seorang ayah disalahkan atas kenakalan anak? Tidak akan terbesit pemikiran sedemikian rupa. Makan akan lebih baik bila status dan tugas Ibu disamaratakan, mendidik dan membangun keluarga. Bila terjadi masalah, maka ayah dan ibu bertanggung jawab menyelesaikan bersama.

 

Pendidikan

Dulu mungkin karena mayoritas pendidikan keluarga di Indonesia cukup rendah, pendidikan yang tidak merata. Tidak ada yang mengajarkan anak laki – laki betapa pentingnya peran ayah bagi anak – anaknya nanti. Laki – laki biasanya tidak diberi tugas mencuci piring atau perkerjaan rumah lainnya. Akibatnya ketika tumbuh dewasa, laki – laki merasa kewajibannya hanya berkerja, dan menyerahkan seluruh urursan domestik kepada istri. Mereka yang tidak pernah berdiskusi dengan ayahnya, nanti ketika jadi ayah juga tidak akan mengajak diskusi anak – anak.

Ayah dengan pendidikan tinggi cenderung lebih peduli dan peka terhadap tumbuh kembang anaknya. Berdasarkan pengalama saya, anak laki – laki biasanya mengikuti jejak ayahnya. Jadi jika ayahnya rajin beribadah atau suka belajar, makan anak juga ikut rajin. Sebaliknya, jika ayahnya enggan beribadah, anak juga mengikuti karakter ayahnya.

Tidak adanya cuti kerja

Kurangnya kesadaran pemerintah atau pun perusahaan dalam memberikan cuti kepada seorang suami yang menemani istri ketika melahirkan. Undang – undang untuk cuti melahirkan bagi suami hanya dua hari saja di atur pada pasal 93 ayat 4. Jangankan paternity leave (cuti suami). Maternity leave (cuti ibu melahirkan) saja sangat terbatas di Indonesia. Karena minim cuti, orang tua sibuk kerja mencari penghasilan untuk kebutuhan sehari – hari. Padahal tidak hanya uang saja yang dibutuhkan anak, mereka juga membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya.

Ayah yang mendapatkan cuti kerja ketika ibu melahirkan dan ikut membantu merawat anak sejak dini, nantinya akan lebih peduli dan berkontribusi dalam perkembangan anak. Negara Korean mengizinkan karyawannya untuk cuti kerja (parental leave) selama 53 minggu dan tetap digaji. Mantap betul!


 

Keluarga Tanpa Ayah

Anak yang tumbuh dewasa tanpa kehadiran peran ayah akan rentan mengalami kesehatan mental. Meskipun mereka tumbuh dewasa, terkadang mereka bersifat kekanak-kanakan, mereka bahkan bisa saja mencari sosok ayah pada laki – laki yang ditemuinya. Bisa jadi malah terjebak dengan hubungan toxic. Anak tumbuh kurang percaya diri, penakut, dan kesulitan menemukan jati dirinya.

Sungguh saya sangat bersyukur karena dalam keluarga kecil saya ini, ayah selalu berusaha untuk menjalankan perannya sebagai seorang ayah, tidak hanya mencari nafkah, namun terkadang ikut membersihkan rumah, selalu menjawab ketika diajak diskusi, bertanya ketika khawatir.

Itulah mungkin  mengapa saya tumbuh dengan semangat pendidikan yang tinggi dan berani untuk mencoba hal – hal baru. Karena ayah selalu siap mendukung, menerima dan selalu menjadi support sistem bagi anak – anaknya.

Bagaimana cara menciptakan Keluarga yang Ideal


 

Mencari Calon Ayah yang berorientasi Keluarga

Bila masih sendiri ada baiknya kita benar – benar selektif memilih calon ayah bagi anak – anak kita. Kita sebaiknya  terus berdikusi dengan calon suami, memastikan akan jadi ayah seperti apa nantinya kelak dan akan dibawa ke mana keluarga ini.

Sikap Terbuka

Jika sudah berkeluarga, maka Seorang ayah harus siap berdiskusi, terbuka dan ingin berubah. Ayah harusnya belajar menjadi ayah yang baik dan mau belajar melalui buku, seminar parenting atau berdiskusi dengan ayah yang lain. Ibu harus sering mengajak diskusi ayah untuk menentukan arah pendidikan anak dan peran ayah dalam keluarga.

 

Refrensi:

https://www.unicef.org/press-releases/sweden-norway-iceland-and-estonia-rank-highest-family-friendly-policies-oecd-and-eu

https://www.unicef-irc.org/family-friendly

https://www.oecd.org/policy-briefs/parental-leave-where-are-the-fathers.pdf

https://babelprov.go.id/artikel_detil/indonesia-fatherless-country

https://wartaekonomi.co.id/read149193/mensos-indonesia-ranking-3-fatherless-country-di-dunia%C2%A0

https://id.theasianparent.com/indonesia-negara-fatherless

https://toolbox.finland.fi/life-society/country-ranking-time-dads-spend-children/

 

 

 

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^