Fafavoice, catatan Fafa

Deforisasi: Upaya Membangung Negeri atau Kepentingan Pribadi



Deforisasi atau penggundulan hutan bukanlah masalah baru di negara kepulauan Indonesia. Isu deforisasi di Indonesia selalu hangat diperbincangan oleh aktifis lingkungan bukan lain karena laju penggundulan hutan yang begitu cepat, bahkan Indonesia didapuk menjadi negara nomer 2 dengan laju deforisasi tercepat di dunia menurut World Resource Institute, Global Forest Review. Lagi-lagi Indonesia menoreh prestasi yang membanggakan di tingkat Internasioanl ya!



 

Indonesia kehilangan hampir 10 juta hektar hutan primer selama dua dekade terakhir dari tahun 2002 sampai 2020. Jika luas stadion Bung Tomo adalah 100 hektare. Maka perkiraan hutan yang hilang seluas 10.000 kali luas stadion, bayangkan berapa juta pohon yang dibakar, ditebang dan berapa juta hewan kehilangan tempat tinggalnya. Jutaan ton oksigen dan air yang lenyap begitu saja, hanya karena deforisasi. Kita kehilangan banyak sumber kehidupan yang tak ternilai harganya, lalu menukarnya dengan materi yang berharga untuk kalangan elit saja.

Meskipun Indonesia terancam kehilangan hutannya akibat deforisasi, pernyataan Menteri Lingkungan Hidup (LHK) Siti Nurabaya dengan tegas tidak akan menghentikan laju pembangunan nasional. "Oleh karena itu, pembangunan yang sedang berlangsung secara besar-besaran era Presiden Jokowi tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon atau atas nama deforestasi," paparnya, dikutip Kamis (04/11/2021)

 



 

 

 

Faktor Utama Penyebab Deforisasi

Selain karena pembangunan nasional (pemindahan Ibu kota ke Penajam Pasir Utara dan Kutai Kartanegara), pembukaan lahan untuk pertanian dan perumahan. Kelapa sawit disinyalir sebagai faktor utama deforisasi, 80% pembakaran hutan menjadi alasan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.

Selama lima tahun terakhir, luas perkebunan kelapa sawit terus bertambah. Pada 2017, Kementerian Pertanian mencatat 14.048.722 hektare. Tahun berikutnya naik menjadi 14.326.350 hektare. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, luas perkebunan minyak kelapa sawit mencapai 15,08 juta hektare (ha) pada 2021.

Jika dipikir bagaimana caranya pengusaha mendapatkan lahan kelapa sawit seluas itu? Jika tidak dari pembukaan lahan-lahan hutan. Indonesia kehilangan hampir 10 juta hektare hutan dan luas kelapa sawit per 2021 15,08 juta hektare.

Keuntungan yang menggiurkan dari bisnis ekspor kelapa sawit membuat perusahaan sawit semakin melebarkan sayapnya. Total konsumsi lokal tahun 2021 adalah 18,42 juta ton, sedangkan 34,23 juta ton lainnya dipasok ke pasar ekspor. Selain itu pada tahun 2020, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Abdul Rochim menyampaikan pendapatan devisa negara dari CPO (Crude Palm Oil) minyak kelapa sawit mencapai USD 22,73 milyar. Dengan nilai devisa tertinggi karena komoditas minyak kelapa sawit semakin digemari pasar global.

Metode pembakaran hutan:

Membakar hutan adalah cara yang paling mudah dalam mengehemat biaya operasional untuk membuka lahan baru. Hanya membutuhkan api untuk membuka lahan yang biasanya membutuhkan banyak alat berat.

Masih ingat pada akhir 2015 - awal 2016 Indonesia dan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura terdampak asap kebakaran hutan. Pada tahun itu lebih dari 800.000 hektare hutar Indonesia hangus terbakar.

Setelah darurat asap, kasus kebakaran memang menurun drastis, namun dalang sesungguhnya pembakaran hutan masih belum terungkap sampai sekarang.

Ancaman Deforisasi

Apa yang terjadi bila dunia tidak memiliki Hutan? Pemanasan global miningkat dan kehidupan semua makhluk terancam, bencana semakin sering terjadi. Tidak ada pelindung utama dari krisis iklim, tidak ada penyimpanan air dan sumber paru-paru dunia.

Kelestarian Hewan dan Tumbuhan Langkah Indonesia pun semakin hari semakin terancam, karena tempat tinggal mereka kini telah beralih fungsi, berganti wajah menjadi lahan asing yang tidak ramah hewan. Hewan dituduh masuk lahan pribadi, yang dulunya adalah rumah mereka. Ke mana mereka akan mencari makan? Di mana tempat untuk berteduh dan bernapas?

Kita dan ambisi kita lah bahaya sesungguhnya untuk kelestarian hutan dan bumi. Jangan sampai generasi berikutnya tidak akan menjumpai hewan dan tumbuhan Indonesia selain di museum.

Apa yang bisa kita perbuat?

Satu-satunya yang mampu melindungi hutan tentu saja warga Indonesia sendiri. Sebagian warga yang dekat dan hidup di hutan bisa mengajukan untuk menjadi kawasan hutan adat yang dikelola dan dilindungi oleh warga adat.

Terus melakukan upaya reboisasi atau penghijauan kembali hutan gundul. Setidaknya kita mampu meminimalisir kerusakan hutan dengan menanam bibit pohon baru di hutan-hutan di Indonesia.

Jangan muda terbawa arus. Kita harus yakin bahwa deforisasi adalah hal yang buruk merusak alam dan generasi berikutnya. Akan banyak media maupun orang-orang berpengaruh yang membela kepentingan segelintir orang tertentu.

Saya sangat tidak setuju dengan pendapat Jan Horas V. Purba dan Tungkot Sipayung dalam penelitiannya yang berjudul “Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan” menyatakan bahwa deforisasi adalah hal yang umum terjadi di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Perancis. Nyatanya negara maju harus membayar dosanya karena telah melakukan deforisasi.

Multifungsi lahan pertanian sawit menjadi solusi untuk menjaga ekosistem, sebagai lahan pertanian yang tetap mampu menjaga keseimbangan air dan oksigen.

Jika memang demikian benar nyatanya. Lalu kenapa bencana banjir dan tanah longsor semakin bertambah setiap tahunnya dan warga yang tinggal di sekitar perkebunan kelapa sawit kesusahan mendapatkan air bersih?

 

Ingatlah akan selalu ada ilmuan ataupun cendekia yang dibayar mahal untuk membuat penelitian yang menguntungkan satu pihak tertentu. Seperti halnya segala artikel yang ada di https://gapki.id/ 100% mendukung adanya perkebunan kelapa sawit.

Seharusnya pemerintahlah yang mampu membatasi, mengatur dan memberikan sangsi tegas deforisasi. Namun setelah kenaikan harga minyak tahun 2022, betapa tidak berdayanya pemerintah di hadapan pemilik kelapa sawit. Dengan produksi kelapa sawit melimpah mustahil harga minyak naik. Tujuan utama mereka memang hanyalah keuntungan pribadi, kerakusan manusia memang tidak ada akhirnya.

Refrensi

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-59357389

https://www.bbc.com/indonesia/dunia-59151007

http://jmi.ipsk.lipi.go.id/index.php/jmiipsk/article/download/717/521

https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/09/150930_indonesia_asap_bantuan

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/01/04/banjir-sampai-kekeringan-ini-bencana-alam-di-indonesia-pada-2022

https://betahita.id/news/detail/7262/luas-mutakhir-kebun-sawit-indonesia-.html.html

https://www.cnbcindonesia.com/news/20211104100943-4-288917/menteri-lhk-pembangunan-jokowi-tak-setop-gegara-deforestasi 

https://kemenperin.go.id/artikel/22613/Lebih-Dari-75-Persen-Ekspor-Indonesia-Berupa-Produk-Manufaktur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^