Fafavoice, catatan Fafa

Hukum Perlindungan Anak dari Perundungan: Sekadar Perundangan di atas Kertas

 

Hukum Perlindungan Anak dari Perundungan: Sekadar Perundangan di atas Kertas

Perundungan atau Bulliying merupakan suatu tindakan menyakiti orang lain baik secara verbal atau fisik yang menyebabkan depresi, tekanan, dan masalah mental lainnya. Ketika dewasa, perundungan verbal (komentar negatif) sebenarnya sering terjadi di kehidupan sehari-hari dan kita anggap hal yang biasa. Namun jika perundungan yang berkaitan dengan fisik dan verbal ini terjadi ketika anak-anak yang masih belajar di bangku sekolah, hal ini akan berdampak panjang, menghantui sepanjang hidup korban perundungan.

Kasus-kasus perundungan parah (kekerasan fisik) yang viral di media sosial seringnya berujung damai, dengan hanya sangsi berupa si perundung belajar di rumah (skors) atau belajar sendiri di sekolah (kelas di bedakan). Lalu bagaimana dengan kasus perundungan lain yang tak sempat terlihat di media sosial? Mungkin saja terlupakan dan tidak dianggap serius

Kasus Bulliying seperti Gunung Es

Sepertinya dilansir dari KPAI.go.id, kasus perundungan yang dilaporkan dan tercatat di KPAI bisa jadi hanya sedikit. Korban-korban lainnya yang tidak berdaya dan takut bercerita kepada siapapun tentu lebih banyak dari pada yang terlihat dipermukaan.

Lalu adakah hukum yang melindungi anak-anak dari tindakan perundungan di sekolah? Bentuk kekerasan ini bisa jadi mengancam keselamatan anak.

Sekadar Hukum yang ditulis, bukan ditegakkan

Jangan salah, ternyata Indonesia memiliki hukum tertulis terkait kasus perundungan, plus sangsi bagi siapapun yang melakukan perundungan. Berbeda dengan negara US yang penetapan hukum dan sangsi disesuaikan dengan daerah masing-masing. Perundangan terkait perundungan di Indonesia cukup berat. Selain itu, anak juga berhak meminta perlindungan dari kasus perundungan yang menimpanya, dijelaskan dalam Pasal 54 UU 35/2014

(1) bahwa anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/pihak lain,

(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, aparat pemerintah dan/masyarakat.

Sedangkan sangsi bagi pelaku ditetapkan Pasal 80 ayat (1) jo. Pasal 76C UU 35/2014 yang menyatakan:

Pasal 76C UU 35/2014

Setiap Orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan Kekerasan terhadap Anak.

Pasal 80 ayat (1) UU 35/2014

Setiap Orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76C, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72 juta.

Namun realita tidak sesuai ekspektasi, jauh panggang dari pada api. Jangankan didenda atau dipenjara, semua kasus bulliying diselesaikan dengan cara damai, tidak ada yang masuk meja hijau. Bahkan pelaku mengikuti pembelajaran di sekolah seperti biasa. Orang tua korban yang meminta pelaku untuk dikeluarkan dari sekolah juga tidak dikabulkan. Seolah ini bukan masalah besar, bukan hal serius yang perlu diselesaikan.

Dianggap sepele percuma melapor

Apakah korban perundungan pernah melaporkan masalahnya kepada guru? Mungkin sebagian tidak melapor karena malu dan tertekan. Beberapa yang memberanikan dulu untuk cerita dan melapor malah ditertawakan, tidak dipercaya dan dianggap tidak serius. Sepertinya hal beberapa korban perundungan yang yang berani bercerita di instagram perempuan berkisah (media yang melayani konseling bagi pasiennya)

Aku yakin beberapa guru sebenarnya peka dan paham adanya kasus kekerasan/pelecahan. Namun mereka memilih untuk diam, dan menganggap perundungan adalah hal biasa yang dialami anak-anak. Tidak mau ikut campur karena nantinya masalah akan menjadi panjang. Hal ini umum terjadi di satuan pendidikan negara manapun, seperti halnya diskusi kasus perundungan sekolah-sekolah USA di Quora.com

Pembuli atau perundung bisa saja sesama murid atau dari guru sendiri. Tidak semua guru berdedikasi dan tulus mengajar untuk murid-muridnya. Beberapa mungkin terpaksa menjadi guru karena tidak ada perkerjaan lain, beberapa pilih kasih ketika mengajar, bersikap sesukanya sendiri. Beberapa yang sadar bahwa itu adalah kasus perundungan membiarkannya begitu saja.

Tentu selalu ada guru yang baik dan penuh dedikasi, mengajar secara totalitas untuk murid-muridnya. Ada namun jarang, kebanyakan mengajar seperlunya saja, asal sesuai dengan ketetapan dari sekolah.

Elektabilitas sekolah

Kenapa sekolah tidak ingin menangani masalah bulliying/perundungan sampai tuntas dan justru memilih jalan damai?

Karena sekolah bersifat transaksional, kasus perundungan di sekolah akan menurunkan kredibilitas, kepercayaan masyarakat, elektabilitas dan sampai akreditasi sekolah. Kepala sekolah mana yang ingin mengubur tempatnya dan guru-guru lain mencari nafkah. Tentu mereka akan berusaha menutupinya. Membela guru yang salah, dan mencari jalan paling aman yakni jalan damai. Tanpa masuk berita, koran atau ke pengadilan.

Mengusut perundungan akan menjadi masalah panjang, karena melibatkan berbagai pihak, semisal KPAI, Komnas HAM, polisi, keluarga kedua korban dan pelaku, tentu kepala sekolah dan guru harus mengeluarkan banyak energi untuk membuat laporan dan menyelesaikan kasus sampai tuntas.

tidak adanya penindakan tegas

Kasus pun terus terulang seperti banjir di musim penghujan, selalu ada kasus pembulian setiap tahunnya. Tidak adanya empati dan simpati, karena mungkin mereka tidak pernah mengalami kasus yang sama jadi sampai detik ini, berdasarkan kasus-kasus yang saya baca tidak ada tindakan tegas.

Data KPAI pada tahun 2022 ada 226 kasus kekerasan fisik, psikis, termasuk perundungan.
Tahun 2016, kasus siswa kelas X SMAN 3 Jakarta yang dibully kakak tingkatnya. Pada tahun 2020, kasus siswi SMP Negeri 16 Malang sampai mengamputasi jarinya karena dibanting. Tahun 2022, kasus bulliying SMP Plus Baiturrahman berakhir dengan damai. Tahun 2022, bagaimana seorang anak SD Tasikmalaya meninggal tidak mau makan setelah video perundungan tentangnya viral di media sosial.

Sampai kapan kita berskap apatis terhadap korban perundungan?


 

Dampak jangka panjang

Mungkin bagi siapapun yang tidak pernah berada di posisi korban, selamanya tidak akan pernah memahami kondisi dan mental korban. Untuk itulah, mari kita mulai terbuka dan belajar memahami sejak sekarang.

Apa yang terjadi pada anak yang menjadi korban perundungan? Trauma berkepanjangan yang akan terus dibawa sampai dewasa. Kesadaran yang terlambat, takut melangkah maju ke depan, tidak mudah mempercayai orang lain. Rasa sakit dan kecewa bila mengingat kembali semua adegan itu akan dibawa terus sampai dewasa

Trauma ini menahun, bahkan mungkin selamanya ia akan memiliki pribadi yang tertutup dan pendiam. Seperti halnya yang saya alami dan banyak orang lain rasakan. Butuh waktu belasan tahun bagi saya untuk memahami diri sendiri dan terbuka dengan teman-teman saya. Akhirnya pada titik kesadaran, oh jadi dulu aku termasuk korban perundungan ya, wah ternyata lumayan parah, karena itu aku tidak mudah berteman. Namun, sekarang aku enggak apa-apa, karena banyak teman-teman baik mendukungku dan aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan.

Bahkan bagi korban tidak akan pernah mudah untuk pulih total dari semua bekas luka yang mendalam.

Cara Meminimalisir Perundungan.

Perundungan bisa dihindari jika keluarga/orang terdekat peka terhadap emosi dan kondisi keseharian anak. Anak diedukasi agar berani melapor kepada orang tua bila ada yang mengganggunya. Guru juga dibekali edukasi bagaimana cara mengatasi tindakan perundungan di kelas.

Jika guru dan orang tua berani bertindak sejak dini, maka perundungan bisa dicegah sedini mungkin agar kasus tidak membesar dan semakin kompleks. Ketika korban sudah berani melapor, jangan salahkan mereka atau menggap mereka tidak penting, tapi carilah pelakunya. Orang tua boleh memantau perkembangan anak ke sekolah bila dirasa perlu. Semua dimulai dari kita dan lingkungan kecil kita.

Refrensi

https://www.kpai.go.id/publikasi/kpai-kasus-bullying-dan-pendidikan-karakter

https://yoursay.suara.com/news/2020/03/24/133301/kasus-bullying-dan-penanganannya-di-indonesia

https://www.hukumonline.com/klinik/a/korban-bullying-bunuh-diri-bisakah-pelakunya-dipidana-lt60fd73e366cb3

https://www.quora.com/What-would-be-an-appropriate-punishment-for-bullies

https://www.kompas.tv/article/350131/pelaku-bullying-di-smp-plus-baiturrahman-tak-dikeluarkan-tapi-dijatuhi-sanksi-ini

https://www.unicef.org/indonesia/media/5691/file/Fact%20Sheet%20Perkawinan%20Anak%20di%20Indonesia.pdf

 

 

 

 

 

 

 

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^