Fafavoice, catatan Fafa

Iklan dan Alogaritma Media Sosial Bagi Remaja


 

 

Pemantik

Isu kenakalan remaja tidak lepas lingkungan, keluarga, sekolah, pergaulan dan tentu saja pengaruh media sosial. Bagaimana kenakalan remaja bisa terbentuk? Remaja juga masih seorang anak yang bisa saja mengikuti apapun yang dilihat/didengar/dirasa/dialami setiap hari. Dia adalah peniru handal, merespon cepat apapun di sekitarnya. Sahabat terdekat yang selalu siap mendampingin anak dua puluh empat jam adalah gawai mereka, segala jenis smart phone yang terhubung dengan internet.

Apa yang sering dilihat anak di gawai mereka tidak lain adalah media sosial. Yang menjadi sara rekreasi dan penghibur dengan segala informasinya, video, foto, konten yang menarik dengan segala keabsurdan kontennya bisa jadi pemicu utama anak melakukan kenakalan remaja.

Anak tidak akan mampu berpikir sendiri tanpa pemantik.

Hal yang paling meresahkan yang saya sendiri alami adalah pengaruh media sosial yang kuat tanpa partisipasi orang tua, kemudian akhirnya membentuk karakter anak. Hal-hal yang dianggap tabu baik secara norma agama dan masyarakat, bisa jadi karena seringnya dilihat di media sosial menjadi hal yang wajar dan boleh-boleh saja.

Jangankan anak-anak, manusia dewasa sendiri tidak akan lepas dari pengaruh media sosial. Berkerja, bersosialisasi, berkomunikasi dan belajar semua jadi satu lewat gawai. Bahkan data dari databoks.katadata, pengguna media sosial terbanyak ada di rentang usia 25-34 tahun, usia dewasa.

 

 

 

 


 


Meski kebutuhan besar manusia dan ketergantungan pada gawai untuk mencari rizki halalan thoyyibah, dari pada mendapat manfaat, tendensi manusia lebih mudah terpengaruh hal-hal negatif. Terlebih bagi anak-anak yang belum memiliki pemahaman yang cukup baik tentang apa yang baik dan buruk.

Serangan Mental

Hal yang paling berbahaya dalam menggunakan media sosial adalah serangan mental, prespektif, pola pikir. Konten yang tidak seharusnya dipahami anak-anak terpaksa harus tercerna otak secara audio dan visual dari gawai. Semisal berdasarkan pengalaman pribadi saya ketika sedang mencari resep masakan di youtube, konten yang keluar justru LGBT, atau pun sedang scroll tik tok dengan adik saya, banyak konten kissing bersliweran tanpa diminta, atau ketika ponakan saya membaca komik malah terjebak iklan konten pornografi. Tentu saya, adik dan ponakan saya tidak pernah dengan sengaja mencari konten seperti itu.

Menurut teman saya itu adalah alogaritma dari media sosial, ketika kita melihat konten tertentu maka secara otomatis media sosial akan menawarkan konten lanjutan yang umumnya dipilih oleh orang-orang yang sudah menonton konten awal tadi.

Alogaritma adalah suatu sistem terstruktur yang berpola, sehingga pengguna media sosial bisa asik mengikuti pola sesuai preferensi mereka. Tentu saja saya bisa membedakan mana konten dengan alogaritma yang sesuai dan mana konten yang dipaksakan. Parahnya, semakin ke sini, semakin banyak konten yang menyimpang yang terpaksa kita lihat. Kasus  ini tidak dialami oleh saya seorang, teman-teman saya pun mengalami paparan konten negatif serupa.

Respon anak ketika tidak sengaja menerima konten bisa langsung menolak dengan terbesit, “ini bukan konten yang baik,” lalu dengan cepat menghindar. Ada pula yang biasa, menggagap itu adalah hal yang wajar dan lumrah, ataupun justru malah semakin penasaran, jiwa bergejolak untuk menelusuri konten tersebut hanya dengan sekali tekan, semudah bagi anak mengakses konten negatif.

Dari ketiga respon tersebut, tidak ada satu pun yang memberikan dampat positif bagi pertumbuhan jiwa anak. Ketika anak menghindar dan merasa tidak nyaman, jiwanya pun akan tertekan. Ketika anak menggapnya menjadi hal yang wajar, maka akan ada pergeseran moral-moral, menyepelekan hal yang salah menjadi sesuatu yang biasa. Bila ada yang penasaran, mencoba membaca konten tersebut, lalu menikmati dan ingin mencobanya, itu naudzubillah, sangat berbahaya namun kemungkinannya begitu besar, karena remaja memiliki sifat berani, penasaran, dan suka mencoba hal-hal yang baru.

Kasus alogaritma dan iklan negatif ini berdasarkan pengalaman orang tua ketika pandemi, berdasarkan data dari KPAI 2020. Masalah yang ditimbulkan karena gawai adalah: Anak mengalami kecanduan 90%. Melihat tayangan/iklan tidak sopan 55.7%, diperllihatkan atau dikirimi gambar tidak sopan 34,6 %, dikirimi foto tidak sopan 25%. Posisi ke dua, tiga dan empat besar mendukung kekhawatiran saya yang mendalam tentang iklan dan alogaritma dari media sosial.


Karena itulah ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua dan keluarga untuk meminimalisir bahaya media sosial:

1.       Mengawasi

Orang tua bisa mengecek history internet, youtube ataupun media sosial anak lainnya untuk mengetahui konten apa yang bersinggungan langsung dan ikut membentuk pola pikir anak kita. Konten ibarat asupan makanan bagi otak anak. Jika konten yang dibaca/dilihat setiap hari adalah konten yang bermanfaat maka pemikiran anak akan bergizi dan sehat. Namun sebaliknya jika konten yang dikonsumsi tidak masuk akal, tidak sesuai norma masyarakat, maka pola pikir anak akan buruk, sakit dan menormalisasi hal-hal yang tidak wajar.

2.       Membatasi

Bila sudah terlihat tanda kecanduan dan tingkah laku yang kurang baik makan batasi penggunaan gawai dan akses internet. Semakin lama anak menggunakan gawai untuk rekreasi bukan belajar, maka pengaruh negatifnya akan semakin besar.

3.       Mengedukasi

Tugas utama orang tua dan pendamping adalah terus mengajak diskusi, memberi edukasi dan informasi dengan cara yang bijak dan baik. Posisikan sebagai teman diskusi yang layak dihormati, jangan sebagai guru yang mengatur dan otoriter tanpa memberikan penjelasan yang baik. Jika pendekatan terhadap anak baik, maka mereka akan semakin terbuka dan senang bercerita, sehingga anak memahami maksud dan tujuan kita dengan lebih baik pula.

Memberikan akses gawai kepada anak juga penting, karena jika terlalu membatasi anak akan tertekan dan memilih jalan lain yang mungkin lebih berbahaya. Kita hanya perlu mengedukasi mereka untuk bijak menggunakan media sosial, konten yang bagus dan tidak.

Jika suatu saat anak mengalami masalah atau kenakalan remaja. Maka kita harus siap dengan lapang dada, akibat kelalaian kita. Bisa jadi kenakalan remaja saat ini adalah akibat dari timbunan permasalahan yang ia alami bertahun-tahun yang lalu.

Orang tua sudah seharusnya menjadi rumah untuk anak-anak berpulang ketika mengalami tanda-tanda kenakalan atau pun pemberontakan. Jika orang tua tidak bisa menjadi rumah yang bisa melindungin jiwa-jiwa mereka, anak akan memilih rumah yang berbeda dan semakin menjauh dari keluarga.

Jadilah rumah untuk anak-anak.

 

 Refrensi

https://bankdata.kpai.go.id/files/2021/02/Hasil-Survei-KPAI-2020-Pemenuhan-dan-Perlidunga-di-Masa-Covid-19.pdf

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/11/23/berapa-usia-mayoritas-pengguna-media-sosial-di-indonesia

https://www.ekrut.com/media/algoritma-adalah

http://repository.uin-suska.ac.id/6954/3/BAB%20II.pdf

 

 

 

 

 

 

 

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca ^^